Hariankripto – Kabar wallet Cardano bocor langsung membuat heboh komunitas Cardano. SecondFi, wallet yang dulu bernama Yoroi, kini jadi sorotan setelah celah keamanannya membuka jalan bagi penyerang untuk menguras dana pengguna. Masalah ini tidak muncul dari jaringan Cardano. Namun, dampaknya tetap besar karena jutaan pengguna pernah memakai wallet ini.
SecondFi lahir dari Emurgo, salah satu dari tiga perusahaan pendiri Cardano. Fakta itu membuat kasus ini terasa jauh lebih mengejutkan. Lebih dari satu juta orang pernah memakai wallet tersebut. Karena itu, kebocoran ini memicu kekhawatiran besar di komunitas ADA.
Wallet Cardano Bocor karena Celah di SecondFi
Akar masalah ada pada software pembuat wallet milik SecondFi. Software itu membentuk private key dengan pola yang lemah. Akibatnya, penyerang bisa menebak private key yang seharusnya benar-benar acak. Begitu penyerang memegang kunci itu, mereka bisa masuk ke wallet dan memindahkan dana tanpa izin.
SlowMist ikut melacak pergerakan dana yang terkait dengan kasus ini. Firma keamanan tersebut menilai angka kerugian jauh lebih besar dari dugaan awal. SecondFi sejauh ini baru mencatat sekitar USD 2,4 juta yang hilang. Namun, SlowMist menduga jumlah akhirnya bisa menembus USD 20 juta dari 129 juta ADA dan token lain yang sempat bergerak lewat alamat yang terkait dengan penyerang.
SlowMist: Cardano Ecosystem Project SecondFi Losses May Exceed $20 Million
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) June 24, 2026
SecondFi, a Cardano ecosystem project, said the root cause of its recent security incident has been traced to an issue in its proprietary Cardano wallet generation software. The team stated it has… pic.twitter.com/MrAluSOqaO
Angka itu membuat kasus ini terasa sangat serius. Apalagi, pengguna biasanya baru sadar setelah saldo mereka lenyap. Di sisi lain, SecondFi menegaskan bahwa tim menemukan sumber celah pada software internal mereka, bukan pada protokol inti Cardano. Tim juga sudah memetakan alamat yang terdampak lewat analisis on-chain dan kini menggandeng firma keamanan independen untuk meninjau sisi teknis kasus ini.
Cardano Tidak Kena Hack Dana Pengguna Bisa Kembali
Di tengah simpang siur kabar terkait SecondFi, beberapa tokoh blockchain Cardano mencoba meluruskan narasi yang beredar. Charles Hoskinson menyebut nilai kerugian ini memang terlihat kecil jika orang membandingkannya dengan peretasan kripto lain. Namun, Hoskinson tetap menegaskan bahwa rasa sakit korban tidak mengecil hanya karena angka itu terlihat lebih rendah. Bagi sebagian pengguna, dana yang hilang bisa jadi seluruh simpanan ADA mereka.
Sementara itu, analis kripto Dan Gambardello menyampaikan poin yang sangat penting. Gambardello menekankan bahwa Cardano tidak kena hack. Menurutnya, pelaku menyerang software wallet pihak ketiga, bukan jaringan Cardano itu sendiri. Penjelasan ini penting karena banyak judul berita membesar-besarkan kasus tersebut seolah-olah masalah muncul dari level protokol.
Gambardello juga membagikan data yang memberi sedikit harapan. Ia menyebut penyerang menguras sekitar 16 juta ADA dari 374 alamat. Namun, tim darurat berhasil menyelamatkan 129 juta ADA lewat langkah cepat di lapangan. Kini, tim juga sudah membuka proses klaim agar pengguna yang terdampak bisa mendapatkan kembali ADA mereka. Karena itu, arah kasus ini belum sepenuhnya gelap meski kerugiannya sudah telanjur besar.
Kasus ini juga memberi pelajaran penting bagi investor kripto. Banyak orang terlalu fokus pada keamanan blockchain utama. Padahal, software pendukung seperti wallet, bridge, dan tools lain sering membuka pintu risiko yang lebih nyata. Jika pengembang lalai di lapisan ini, pengguna tetap bisa rugi besar meski jaringan utamanya aman.
Harga ADA Melemah Ekosistem Cardano Makin Tertekan
Insiden SecondFi datang di saat yang buruk bagi Cardano. Harga ADA sudah bergerak dekat area terendah dalam lima tahun. Tekanan pasar juga belum reda. Saat artikel ini terbit, harga Cardano berada di sekitar USD 0,144 dan turun 3,86 persen dalam 24 jam.
Tekanan itu makin berat karena ekosistem kripto pada 2026 memang menghadapi gelombang serangan di level infrastruktur. Awal bulan ini, pelanggaran private key di Humanity Protocol membuat harga tokennya anjlok 88 persen hanya dalam satu hari. Selain itu, kasus bridge Syscoin juga menunjukkan bahwa celah software di atas jaringan utama sering lolos dari audit standar. Polanya terlihat jelas. Penyerang tidak selalu menyerang blockchain inti. Mereka justru memburu titik lemah pada tools yang dipakai pengguna setiap hari.
Di saat yang sama, Cardano juga masih berjuang memulihkan sentimen. Charles Hoskinson sempat mengusulkan rencana penyelamatan untuk ekosistem Cardano. Namun, banyak holder ADA tetap menunjukkan sikap skeptis. Karena itu, kebocoran di SecondFi menambah beban baru di tengah kepercayaan pasar yang sudah rapuh.
Pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar berita wallet Cardano bocor. Kasus ini membuka mata investor bahwa keamanan kripto tidak berhenti pada blockchain. Pengguna juga harus memilih wallet, bridge, dan aplikasi pendukung dengan sangat hati-hati. Dalam dunia kripto, satu celah kecil di software bisa memicu kerugian jutaan dolar dalam hitungan jam.























