Hariankripto – Sebanyak 28 bank global menyelesaikan uji pembayaran lintas negara melalui Project Agorá. Bank for International Settlements atau BIS mengoordinasikan pengujian tersebut bersama sejumlah bank sentral dan lembaga keuangan besar.
JPMorgan, Citi, UBS, Deutsche Bank, dan Standard Chartered ikut berpartisipasi dalam proyek ini. Para peserta memproses sekitar US$1 juta atau 800.000 franc Swiss melalui 30 transaksi.
Seluruh proses berlangsung dalam waktu sekitar 80 detik. Uji coba tersebut mencakup dolar Amerika Serikat, euro, pound Inggris, yen Jepang, franc Swiss, dan won Korea Selatan.
Project Agorá menggunakan cadangan bank sentral dan simpanan bank komersial dalam bentuk token digital. Pendekatan ini memungkinkan bank menyelesaikan pembayaran dan pertukaran valuta asing dalam satu sistem bersama.
Project Agorá Menggabungkan Dua Jenis Uang Bank
Project Agorá berbeda dengan stablecoin seperti USDC milik Circle atau USDT milik Tether. Stablecoin umumnya memakai aset cadangan untuk menjaga kestabilan nilai token terhadap mata uang tertentu.
Sebaliknya, Project Agorá mengubah dua bentuk uang bank konvensional menjadi token digital. Bentuk pertama mencakup cadangan milik bank komersial yang tersimpan di bank sentral. Bentuk kedua mencakup simpanan nasabah pada bank komersial.
NEW: @JPMorgan, @Citi, @UBS, and 25 other banks have completed real cross-border payments using tokenized money in a BIS-led pilot, settling $1M across six currencies in an average of 80 seconds. pic.twitter.com/NLL6LCTxJH
— CoinDesk (@CoinDesk) July 31, 2026
Platform kemudian menempatkan kedua jenis uang tersebut dalam sebuah buku besar bersama. Melalui mekanisme ini, setiap bank dapat melihat dan memproses perpindahan dana dalam satu lingkungan yang terintegrasi.
Sistem pembayaran internasional saat ini masih mengandalkan jaringan bank koresponden. Dalam sistem tersebut, dana sering melewati beberapa lembaga sebelum mencapai penerima akhir. Setiap bank juga menyimpan catatan transaksi pada sistem yang berbeda.
Kondisi itu dapat memperpanjang waktu transaksi. Selain itu, bank sering menghadapi biaya tambahan, perbedaan data, dan keterbatasan dalam melacak posisi pembayaran.
Project Agorá menawarkan mekanisme yang lebih sederhana. Bank dapat menyelesaikan pembayaran dan pertukaran mata uang secara bersamaan melalui buku besar bersama.
Lebih lanjut, seluruh peserta dapat melacak perjalanan dana dari pengirim hingga penerima. Fitur tersebut membantu bank mengurangi kesalahan operasional dan meningkatkan transparansi transaksi.
Penyelesaian Valuta Asing Mengurangi Risiko Transaksi
Salah satu fitur utama Project Agorá terletak pada mekanisme atomic foreign exchange. Fitur ini memungkinkan dua pihak menukar mata uang secara bersamaan.
Dalam sistem konvensional, satu pihak terkadang harus mengirimkan dana lebih dahulu. Pihak lainnya kemudian menyelesaikan pembayaran setelah menerima konfirmasi transaksi awal.
Urutan tersebut menciptakan risiko penyelesaian. Salah satu pihak dapat kehilangan dana apabila pihak lain gagal mengirimkan mata uang yang telah mereka sepakati.
Atomic foreign exchange menghilangkan jeda tersebut. Sistem hanya menyelesaikan transaksi ketika kedua mata uang siap berpindah pada waktu yang sama.
Dengan demikian, bank dapat mengurangi risiko ketika menangani pembayaran lintas negara. Mekanisme ini juga mempercepat proses karena peserta tidak perlu menunggu konfirmasi melalui beberapa perantara.
Project Agorá mencatat sekitar 30 transaksi dalam waktu kurang dari dua menit. Hasil tersebut menunjukkan bahwa teknologi tokenisasi dapat mempercepat penyelesaian pembayaran grosir antarbank.
Selain kecepatan, platform ini memberikan jejak transaksi yang lengkap. Bank dapat mengetahui asal dana, jalur pembayaran, dan penerima akhir secara lebih jelas.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena lembaga keuangan harus menjalankan pemeriksaan kepatuhan. Bank perlu mengawasi transaksi mencurigakan serta memastikan bahwa setiap pembayaran mengikuti aturan yang berlaku.
Selanjutnya, sistem bersama dapat mengurangi kebutuhan rekonsiliasi data. Dalam infrastruktur lama, setiap lembaga harus mencocokkan catatan internal dengan catatan milik bank lain.
Proses itu membutuhkan waktu dan sumber daya besar. Namun, buku besar bersama memberikan informasi yang sama kepada seluruh peserta sesuai hak akses masing-masing.
Walaupun hasil awal menunjukkan perkembangan positif, bank masih perlu menguji kemampuan sistem dalam skala yang lebih besar. Infrastruktur pembayaran global menangani jutaan transaksi dengan nilai sangat tinggi setiap hari.
Karena itu, tahap berikutnya perlu menguji kapasitas jaringan, keamanan siber, perlindungan data, dan integrasi antarnegara. Regulator juga perlu menyelaraskan aturan sebelum bank menjalankan sistem tersebut secara luas.
Bank of Korea Menguji Transfer Berbasis Token
Bank of Korea ikut menjalankan uji coba yang berkaitan dengan Project Agorá. Bank sentral Korea Selatan tersebut memproses pembayaran lintas negara melalui cadangan bank sentral dan simpanan bank dalam bentuk token.
Proses tersebut membutuhkan waktu rata-rata satu menit 20 detik. Waktu itu mencakup instruksi pengiriman hingga penyelesaian akhir.
Bank of Korea menyatakan bahwa fungsi utama platform bekerja secara stabil dalam lingkungan yang menyerupai kegiatan operasional nyata. Hasil ini memberikan gambaran awal mengenai kemampuan teknologi tokenisasi dalam sistem perbankan.
Selain transaksi lintas negara, Bank of Korea menguji transfer antarbank dalam denominasi won. Nilai transaksi tersebut mencapai 20 juta won.
NongHyup Bank dan Shinhan Bank berpartisipasi dalam pengujian tersebut. Bank of Korea menguji proses penerbitan cadangan token, pemindahan token antarbank, serta pelunasan pada akhir transaksi.
Uji coba itu memperlihatkan bahwa cadangan bank sentral dapat bergerak melalui sistem digital bersama. Bank komersial juga dapat memakai token tersebut untuk menyelesaikan kewajiban antarbank.
Perkembangan ini mencerminkan perubahan besar dalam sektor keuangan global. Sebelumnya, banyak institusi hanya menguji tokenisasi melalui simulasi atau konsep terbatas.
Kini, bank sentral dan bank komersial mulai menggunakan transaksi nyata dalam lingkungan terkendali. Manajer aset juga mulai menawarkan reksa dana pasar uang dan kredit swasta dalam bentuk token.
























