Hariankripto – Ethereum kali ini kembali jadi sorotan. Sorotannya bukan karena harga ETH atau tren altcoin, namun mantan kontributor Ethereum Foundation, Van Epps, justru menyoroti ancaman di Ethereum. Ancaman tersebut yaitu krisis pendanaan untuk pengembangan inti jaringan Ethereum.
Van Epps menilai ancaman ini bisa muncul dalam 3 sampai 9 bulan ke depan. Menurutnya, masalah ini tidak akan meledak dalam semalam. Sebaliknya, masalah ini akan tumbuh pelan, lalu menggerus fondasi teknis Ethereum dari dalam. Karena itu, peringatan ini layak mendapat perhatian besar dari komunitas, investor, dan tim pengembang Ethereum.
Van Epps pernah bekerja di Ethereum Foundation dari Mei 2021 sampai April 2026. Selama lima tahun, ia ikut mengoordinasikan pengembangan protokol inti, pendanaan lewat Protocol Guild, dan riset ekonomi. Jadi, saat ia bicara soal krisis pendanaan Ethereum, pasar punya alasan kuat untuk mendengarkan.
Ethereum Mulai Masuk Fase Pergantian Institusi
Van Epps baru saja menulis artikel di X atau Twitter dengan judul Succession After Subtraction. Dalam tulisan itu, ia menjelaskan bahwa Ethereum sedang masuk fase pergantian institusi. Artinya, Ethereum Foundation mulai mengurangi perannya. Sementara itu, ekosistem Ethereum belum punya lembaga pengganti yang cukup sah, kuat, dan stabil untuk mengambil alih tugas penting.
Situasi ini menciptakan celah yang berbahaya. Selama ini, Ethereum Foundation membantu banyak fungsi penting. Yayasan ini ikut mendorong koordinasi pengembangan inti, mendukung riset, serta membantu aliran dana ke ekosistem teknis. Kini, saat perannya mulai mengecil, belum ada struktur baru yang benar-benar siap berdiri di garis depan.
Di sisi lain, jaringan sebesar Ethereum tidak bisa berjalan hanya dengan semangat komunitas. Ethereum butuh peneliti, developer inti, tim koordinasi, dan tim client yang terus menjaga software tetap aman dan relevan. Jika ekosistem gagal membangun pengganti institusional, maka tekanan akan muncul lebih cepat dari dugaan banyak orang.
Karena itu, isu ini bukan sekadar soal organisasi. Isu ini menyentuh masa depan Ethereum secara langsung. Jika fondasi kelembagaan melemah, maka proses pengembangan jaringan juga ikut goyah.
Krisis Pendanaan Ethereum Mulai Terlihat
Pada bagian kedua artikelnya, Van Epps membahas ancaman paling nyata, yaitu krisis pendanaan protokol. Van Epps menilai treasury Ethereum Foundation makin terbatas. Pengetatan ini bukan rumor. Pada Juni 2025, Ethereum Foundation merilis kebijakan treasury dengan target belanja operasional tahunan sekitar 15 persen dari treasury, lalu menurunkannya secara bertahap menuju baseline 5 persen dalam lima tahun.
Kebijakan itu memberi sinyal yang jelas. Ethereum Foundation ingin belanja lebih hemat. Namun di saat yang sama, ekosistem inti Ethereum tetap butuh dana besar agar bisa bergerak. Van Epps memperkirakan ekosistem pengembangan inti Ethereum memerlukan sekitar USD 30 juta tiap tahunnya. Angka itu mencakup kebutuhan developer inti, researcher, tim koordinasi, dan berbagai tim client.
Masalahnya tidak berhenti di sana. Client Incentive Program atau CIP juga sudah berakhir. Padahal, program ini dulu memberi insentif ETH kepada tim-tim client Ethereum seperti Geth, Nethermind, Besu, Lighthouse, Prysm, Teku, Nimbus, Erigon, Lodestar, dan lainnya. Tim-tim ini menjaga infrastruktur dasar Ethereum setiap hari. Mereka memastikan node berjalan, konsensus tetap sehat, dan pembaruan protokol bisa diterapkan dengan aman.
Sayangnya, tim client sulit menangkap nilai ekonomi secara langsung dari pekerjaan mereka. Mereka membangun fondasi, tetapi tidak selalu mendapat pendapatan yang sebanding. Karena itu, saat CIP berhenti dan Ethereum Foundation ikut mengencangkan pengeluaran, tekanan finansial langsung meningkat.
Van Epps lalu memberi peringatan keras. Ethereum Foundation bisa mengalami krisis pendanaan yang terbakar pelan. Jaringan Ethereum mungkin tidak langsung runtuh. Namun dalam 3 sampai 9 bulan, ekosistem bisa mulai kesulitan membayar orang-orang yang menjaga inti protokol tetap hidup.
Dampaknya Bisa Terasa Saat Semua Sudah Terlambat
Ancaman terbesar dari krisis seperti ini justru ada pada efek lanjutannya. Van Epps menilai dampak awal mungkin belum langsung terlihat di permukaan. Harga ETH bisa saja tetap bergerak normal. Aktivitas on-chain juga mungkin masih tampak sehat. Namun di balik layar, tekanan bisa mulai memukul tim-tim teknis yang paling penting.
Jika pendanaan seret, developer bisa memilih keluar dari Ethereum. Researcher bisa pindah ke proyek lain yang memberi kepastian lebih baik. Tim koordinasi bisa kehilangan fokus. Lalu, tim client bisa kesulitan mempertahankan talenta terbaik. Saat itu terjadi, Ethereum tidak hanya kehilangan tenaga kerja. Ethereum juga kehilangan konteks teknis, pengalaman, dan kesinambungan.
Efek semacam ini biasanya muncul 12 sampai 18 bulan kemudian. Pada fase tersebut biasanya moral tim turun dan proses maintenance protokol makin berat. Pembaruan jadi lebih lambat serta risiko miskomunikasi antar tim pun ikut naik. Dengan kata lain, trader dan investor kripto mungkin baru sadar saat kerusakan sudah menumpuk.
Meski begitu, peringatan Van Epps juga membawa pesan penting. Ethereum masih punya waktu untuk bertindak. Ekosistem masih bisa membangun institusi baru, merancang mekanisme pendanaan baru, dan membagi tanggung jawab dengan lebih sehat. Namun langkah itu harus dimulai sekarang, bukan saat krisis sudah menggigit.























