Hariankripto – Sam Bankman Fried atau SBF kembali jadi sorotan besar di industri kripto. Mantan CEO FTX itu masih menjalani hukuman 25 tahun penjara atas skandal FTX, tetapi ia terus melawan vonis dan tetap membuka peluang mendapat grasi dari Presiden Donald Trump.
Pernyataan SBF langsung memicu berbagai respons tidak baik di kalangan komunitas kripto. SBF mengatakan akan menerima grasi jika Trump memberikannya. Namun, polemik makin panas setelah Michael Avenatti, yang mengaku pernah satu unit penjara dengan SBF, membongkar cerita berbeda dari balik jeruji.
Avenatti Sebut SBF Tidak Pernah Akui Kesalahan
Michael Avenatti menyampaikan kritik tajam lewat unggahan di X. Avenatti mengklaim pernah berbagi unit penjara dengan SBF dan mengenal mantan bos FTX itu dengan cukup baik.
Avenatti mengatakan dirinya beberapa kali berdebat dengan SBF soal tanggung jawab atas runtuhnya FTX. Menurut Avenatti, SBF tidak pernah mengakui kesalahan dan tidak menunjukkan sikap menyesal atas kerugian besar yang muncul dari skandal tersebut.
Ia menilai seseorang harus berani menerima tanggung jawab sebelum bicara soal pengampunan. Bagi Avenatti, grasi tidak layak datang kepada orang yang masih menolak mengakui perbuatan salah.
Pernyataan ini langsung memperkuat kritik terhadap SBF. Banyak pihak melihat isu grasi sebagai hal sensitif karena FTX pernah mengguncang kepercayaan investor terhadap industri kripto global.
SBF Dinilai Pintar Tapi Gagal Memimpin FTX
Avenatti tidak hanya menyerang SBF. Ia juga mengakui bahwa SBF memiliki kecerdasan tinggi dan visi besar di bidang teknologi. Namun, ia menilai kecerdasan saja tidak cukup untuk memimpin perusahaan bernilai miliaran dolar.
Menurut Avenatti, SBF terlalu percaya diri dan gagal membawa pemimpin berpengalaman ke dalam FTX. Ia menyebut SBF membutuhkan sosok dewasa dalam manajemen agar perusahaan tidak berjalan hanya berdasarkan ambisi pribadi.
Avenatti lalu membandingkan situasi itu dengan Google. Larry Page dan Sergey Brin membawa Eric Schmidt untuk membantu perusahaan berkembang. Menurutnya, pendiri hebat tahu kapan harus meminta bantuan dari orang yang lebih berpengalaman.
Pandangan itu membuat kasus FTX terlihat seperti pelajaran besar bagi dunia kripto. Proyek dengan ide besar tetap bisa runtuh jika pemimpinnya tidak mampu mengelola risiko, tata kelola, dan kepercayaan pengguna.
Grasi Trump Bikin Skandal FTX Kembali Panas
Donald Trump sebelumnya pernah mengatakan bahwa ia tidak berniat memberi grasi kepada SBF. Hingga kini, SBF juga belum masuk daftar tokoh yang secara terbuka Trump pertimbangkan untuk mendapat keringanan hukuman.
Meski begitu, isu grasi tetap menarik perhatian karena Trump sudah memberikan banyak pengampunan dan keringanan hukuman pada masa jabatan keduanya. Kondisi ini membuat publik terus menebak apakah peluang SBF benar-benar tertutup atau masih bisa berubah.
Di sisi lain, SBF tetap mempertahankan pembelaannya. Ia mengklaim tidak melakukan penipuan dan menyebut pelanggan FTX pada akhirnya mendapat pembayaran kembali.
Namun, para pengkritik tetap menyoroti pencampuran dana pelanggan dan kejatuhan FTX sebagai inti masalah. Mereka melihat kasus ini bukan sekadar kegagalan bisnis, melainkan krisis kepercayaan yang meninggalkan luka besar bagi industri aset digital.
Kontroversi grasi SBF kemungkinan belum akan mereda. Selama ia terus melawan vonis dan membuka pintu pengampunan politik, komunitas kripto akan terus memperdebatkan satu hal penting. Apakah SBF layak mendapat kesempatan kedua, atau skandal FTX harus tetap menjadi peringatan keras bagi semua pelaku industri kripto.






















