Hariankripto – Bank sentral China kembali meningkatkan cadangan emas pada Juli. China menambah sekitar 20 ton emas dalam satu bulan. Angka tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar sejak Oktober 2023.
Langkah ini melanjutkan tren pembelian yang sudah berlangsung selama 21 bulan berturut-turut. Pada Mei, China membeli sekitar 10 ton emas. Kemudian, pembelian meningkat menjadi sekitar 15 ton pada Juni. Setelah itu, jumlahnya kembali naik menjadi hampir 20 ton pada Juli.
Secara year-to-date, China telah menambah sekitar 60 ton emas. Dengan tambahan tersebut, total cadangan emas resmi negara itu mencapai sekitar 2.366 ton. Angka tersebut sekaligus membawa kepemilikan emas China ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Hupzy menilai tren ini tidak hanya berkaitan dengan kenaikan cadangan emas. Pembelian yang semakin besar juga menunjukkan perubahan strategi pengelolaan aset cadangan China. Perubahan tersebut dapat memberi dampak lebih luas terhadap pasar global, termasuk Bitcoin.
China Terus Memperbesar Cadangan Emas
China meningkatkan pembelian emas ketika ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar global. Pada saat yang sama, sejumlah bank sentral juga berusaha mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis aset cadangan.
Kondisi tersebut mendorong emas kembali mendapat perhatian. Bank sentral menggunakan logam mulia ini sebagai salah satu instrumen diversifikasi. Emas juga tidak bergantung langsung pada kebijakan moneter negara lain.
China menunjukkan strategi tersebut secara konsisten. Negara itu tidak hanya membeli emas selama 21 bulan tanpa jeda, tetapi juga memperbesar volume pembelian dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Mei, bank sentral China menambah sekitar 10 ton emas. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 15 ton pada Juni. Selanjutnya, pembelian Juli mencapai sekitar 19,9 ton.
BREAKING: China’s central bank officially added +20 tonnes of gold in July, its largest monthly purchase since October 2023.
— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) August 8, 2026
This follows +15 tonnes and +10 tonnes acquired in June and May, respectively, and marks their 21st consecutive monthly increase in gold reserves.… pic.twitter.com/aVUnJpIz2U
Pola ini menunjukkan akselerasi akumulasi. Karena itu, pasar dapat melihat langkah China sebagai sinyal perubahan komposisi cadangan devisa dalam jangka panjang.
Sementara itu, harga emas masih bertahan pada level tinggi. Harga bullion tetap mendapat dukungan setelah sebelumnya turun dari rekor tertinggi. Dalam beberapa pekan terakhir, emas bahkan mampu bertahan di atas level US$4.000 per ons berdasarkan informasi yang menjadi dasar analisis ini.
Pemindahan Emas ke Hong Kong Perkuat Sinyal Strategis
China juga mengambil langkah lain yang menarik perhatian pasar. Bank sentral negara tersebut dilaporkan memindahkan lebih banyak cadangan emas dari London ke Hong Kong.
Langkah itu dapat memperkuat posisi Hong Kong dalam perdagangan emas internasional. Selain itu, Hong Kong sedang mempersiapkan sistem kliring emas baru. Sistem tersebut bertujuan meningkatkan peran kota itu dalam perdagangan dan pembentukan harga emas dunia.
Perubahan lokasi penyimpanan juga memiliki arti strategis. China dapat meningkatkan kendali atas infrastruktur yang mendukung penyimpanan dan transaksi aset fisiknya.
Dengan demikian, pergerakan emas dari London menuju Hong Kong tidak hanya menyangkut logistik. Pergeseran tersebut juga menunjukkan perubahan struktur penyimpanan aset menuju infrastruktur yang lebih dekat dengan China.
Hupzy melihat perkembangan ini sebagai sinyal geopolitik yang layak mendapat perhatian. Investor perlu melihatnya bersama perubahan pasar energi, ketegangan geopolitik, dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Faktor tersebut dapat memengaruhi cara negara dan investor menentukan komposisi aset mereka. Akibatnya, permintaan terhadap aset alternatif berpotensi tetap kuat.
Dedolarisasi China Bisa Memperkuat Narasi Bitcoin
Akumulasi emas China selama 21 bulan berturut-turut memperkuat pembahasan mengenai dedolarisasi. Istilah tersebut merujuk pada upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam cadangan, perdagangan, atau transaksi internasional.
Hupzy menilai ukuran pembelian yang terus meningkat menjadi sinyal penting. China tidak sekadar mempertahankan kebijakan pembelian emas. Negara itu juga mempercepat akumulasi dalam beberapa bulan terakhir.
Strategi diversifikasi bank sentral seperti ini dapat mendukung narasi aset penyimpan nilai yang tidak bergantung pada satu negara. Dalam konteks tersebut, Bitcoin ikut mendapat perhatian.
Bitcoin memiliki karakteristik yang berbeda dari emas. Emas merupakan aset fisik yang sudah digunakan selama ribuan tahun. Sebaliknya, Bitcoin bekerja melalui jaringan digital terdesentralisasi dengan suplai maksimum 21 juta BTC.
Meski berbeda, keduanya sering masuk dalam pembahasan mengenai alternatif terhadap mata uang fiat. Investor juga kerap melihat emas dan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi ketika risiko ekonomi dan geopolitik meningkat.
Namun, akumulasi emas China tidak otomatis membuat harga Bitcoin naik. Pasar kripto tetap menghadapi faktor lain. Likuiditas global, suku bunga, imbal hasil obligasi AS, regulasi, dan sentimen investor masih memainkan peran besar.
Meski demikian, tren tersebut dapat memperkuat tesis jangka panjang Bitcoin. Jika semakin banyak bank sentral mendiversifikasi cadangan dari dolar AS, perhatian terhadap aset non-sovereign dapat meningkat.
Karena itu, investor kripto perlu memantau kebijakan cadangan China dalam beberapa bulan mendatang. Kelanjutan pembelian emas dan perpindahan cadangan menuju Hong Kong dapat memberi petunjuk mengenai arah strategi moneter dan geopolitik Beijing.






















