Hariankripto – Kasus keamanan kembali menarik perhatian komunitas kripto setelah Blockstream menolak membayar permintaan tebusan atas Bitcoin yang hilang dalam eksploitasi Liquid Network.
Blockstream menyampaikan bahwa pihak yang mengambil Bitcoin tanpa izin telah melakukan tindakan kriminal. Perusahaan menolak anggapan bahwa pelaku bertindak sebagai white hat hacker.
BLOCKSTREAM REFUSES TO PAY RANSOM FOR STOLEN LIQUID BITCOIN
— Bitcoin News (@BitcoinNewsCom) September 11, 2026
Blockstream says it will not pay a ransom for the return of bitcoin stolen in the Liquid Network exploit, rejecting the attackers’ claim to be acting as white hats.
“Taking assets without authorization and withholding… pic.twitter.com/66VEGBjg44
Menurut Blockstream, pelaku keamanan bertanggung jawab harus membantu memperbaiki sistem, bukan mengambil aset pengguna. Perusahaan juga memilih bekerja sama dengan komunitas Bitcoin, penyedia layanan kripto, ahli forensik, dan aparat penegak hukum untuk melacak aset yang masih hilang.
Blockstream mengambil sikap tegas setelah pihak tertentu meminta pembayaran sebagai syarat pengembalian Bitcoin dari insiden Liquid Network.
Perusahaan menilai pembayaran tebusan dapat menciptakan masalah baru bagi industri kripto. Jika pelaku eksploitasi mendapat imbalan, tindakan serupa berpotensi muncul kembali pada proyek lain.
Blockstream sebelumnya membuka komunikasi dengan pihak yang memegang Bitcoin tersebut. Perusahaan mencoba mencari solusi agar dana pengguna dapat kembali.
Namun, Blockstream memilih tidak mengikuti tuntutan tersebut. Perusahaan ingin menjaga prinsip bahwa eksploitasi sistem tidak boleh menjadi cara untuk mendapatkan keuntungan.
Selain itu, Blockstream meminta pihak yang masih menyimpan Bitcoin hasil eksploitasi agar mengembalikan aset tersebut. Perusahaan juga mulai menyiapkan langkah pelacakan bersama berbagai pihak.
Pernyataan Blockstream menarik perhatian berbagai tokoh dalam komunitas Bitcoin. Sebagian pihak mendukung langkah perusahaan, tetapi sebagian lain mempertanyakan cara Blockstream menjelaskan masalah tersebut.
Salah satu komentar datang dari akun X Hodlonaut. Ia menilai Blockstream terlalu menghubungkan kasus Liquid Network dengan perjuangan mempertahankan prinsip Bitcoin.
Menurut Hodlonaut, Bitcoin memiliki prinsip utama seperti desentralisasi, perlindungan terhadap inflasi, dan aturan bahwa pengguna hanya dapat menggunakan aset yang benar-benar mereka miliki.
Ia juga menjelaskan bahwa Liquid Network berbeda dengan jaringan Bitcoin utama. Liquid merupakan federated sidechain yang memiliki mekanisme pengelolaan sendiri.
Hodlonaut melihat insiden tersebut sebagai masalah pada sistem sidechain. Menurutnya, kegagalan proses pembaruan sistem menjadi salah satu faktor yang memicu masalah tersebut.
Selain Hodlonaut, akun XBToshi juga memberikan kritik terhadap langkah komunikasi Blockstream. Ia mempertanyakan keputusan perusahaan yang mengumumkan ancaman hukum setelah proses negosiasi sebelumnya.
negotiated quietly over encrypted pgp until 3,400 btc landed back in the federation wallet.
— CyberSatoshi 𓆙 (@XBToshi) September 11, 2026
then immediately rushed to public x to drop a righteous corporate manifesto about how "crime deserves no reward" and threaten the feds on the remaining 600 btc.
take the liquidity, break… https://t.co/76T0Y95FkR pic.twitter.com/YiRwVTFv3M
Blockstream menegaskan bahwa transparansi menjadi salah satu karakter utama teknologi Bitcoin. Setiap transaksi tercatat dalam jaringan sehingga pelaku sulit menghapus jejak aset.
Menurut perusahaan, komunitas Bitcoin memiliki banyak ahli keamanan, pengembang, dan kriptografer yang terus membantu meningkatkan perlindungan sistem.
Blockstream juga menyampaikan apresiasi kepada komunitas yang membantu mencari kelemahan sistem dan mendukung pengguna terdampak.
Dalam pernyataannya melalui X, Blockstream mengatakan komunitas Bitcoin terus menghadapi berbagai ancaman keamanan. Perusahaan menilai kerja sama antaranggota komunitas menjadi bagian penting dalam menghadapi pelaku kejahatan digital.
Sebagian Bitcoin dari insiden Liquid Network telah kembali ke pihak terkait. Namun, masih terdapat aset yang belum kembali sehingga proses pelacakan tetap berjalan.
Kasus ini menunjukkan bahwa keamanan aset digital membutuhkan lebih dari sekadar teknologi blockchain. Pengembang perlu memperhatikan desain sistem, proses pengujian, serta pengelolaan risiko sebelum layanan digunakan oleh pengguna.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.