HarianKripto.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif baru impor terhadap ratusan negara pada Rabu (2/4/2025). Kebijakan tersebut membuat pasar kemudian bergejolak, terutama pada Bitcoin (BTC).
Tarif baru diterapkan terhadap barang impor dari berbagai negara di seluruh dunia yang masuk ke Amerika Serikat. Kebijakan Trump berdampak pada Indonesia juga yang terkena tarif timbal balik 32 persen.

Pada saat Pemerintahan Trump mengumumkan kebijakan tarif baru, sejumlah nilai crypto melemah. Hal ini mengundang pesimistis terhadap kondisi ekonomi secara global. Kendati demikian, mengutip CoinDesk, tidak perlu khawatir pada kebijakan tarif baru impor ke Amerika Serikat. Sebab, ada pandangan bahwa situasi ini akan menguntungkan Bitcoin.
Sejak Trump dinobatkan sebagai Presiden AS ke-47, pasar crypto masih belum berjalan seperti yang diinginkan. Padahal mantan promotor petinju Mike Tyson itu dianggap sebagai sosok yang sangat ramah dengan cryptocurrency.
Investor mempunyai harapan pada Trump bahwa kebijakannya akan berpengaruh besar pada crypto, seperti Cadangan Strategis Bitcoin. Alih-alih kebijakan tersebut membuat harga lebih tinggi, kenyataannya justru sebaliknya.
Nilai Bitcoin tertahan di rata-rata 80.000 USD pada sepanjang Maret 2025. Padahal sebelumnya sempat menyentuh angka di atas 100.000 pada awal tahun ini. CoinDesk menambahkan crypto saat ini semakin terhubung dengan aset tradisional seperti saham dan obligasi, yang juga terkena dampak akibat ketidakpastian ekonomi global. Bahkan khusus crypto dianggap lebih beresiko.
Investor mulai mencari opsi investasi baru karena ketidakpastian ekonomi global. Emas, yang dianggap memiliki risiko rendah dan telah naik 18% tahun ini, juga menjadi pilihan baru bagi investor.
Bisakah Bitcoin menjadi Emas baru?
Dosen di Columbia Business School, Omid Malekan, memercayai Bitcoin akan meniru jejak emas. Maksudnya adalah Bitcoin bisa menjadi semacam ‘emas baru’ dalam waktu dekat.
“Masa depan masih penuh ketidakpastian. Ada banyak faktor yang saling bertentangan, dan baik crypto maupun kebijakan tarif adalah hal yang masih baru,” ucap Malekan, dikutip dari CoinDesk.
“Beberapa orang menganggap crypto hanyalah aset berisiko yang akan terkena dampak negatif dari tarif. Tapi di sisi lain, Bitcoin mulai mendapat tempat sebagai ‘emas digital’, sementara harga emas fisik melonjak akibat kebijakan ini. Jadi, mana yang akan menang?” kata penulis buku The Story of the Blockchain itu.
Dengan kata lain, di tengah ketidakpastian ekonomi, investor bisa saja melihat Bitcoin setara dengan emas. Artinya, keduanya merupakan aset yang lebih aman.
Bitcoin melemah hanya sementara
Pada perdagangan Jumat (4/4/2025) pukul 09:00 WIB via Coinmarketcap, Bitcoin mengalami penurunan 1,22 persen harga dalam siklus 24 jam. Hal ini buntut kebijakan tarif baru oleh Trump yang disebut sebagai Liberation Day.
Zach Pandl selaku Kepala Riset di Grayscale (perusahaan manajamen aset crypto), percaya bahwa Liberation Day menjadi titik balik bagi pasar keuangan.
“Mungkin setelah ini, pasar crypto bisa kembali fokus pada fundamental yang sebenarnya masih sangat kuat,” ucap Pandl, dikutip CoinDesk.
Pandl menilai kebijakan tarif ini bisa mengurangi dominasi dolar AS. Tentunya ini akan membuka peluang baru bagi mata uang alternatif seperti Bitcoin untuk unjuk gigi.
Pria yang sebelumnya pernah bekerja sebagai ekonom makro di Goldman Sachs itu menambahkan penurunan harga Bitcoin akibat pengumuman Trump hanya bersifat sementara.
“Kebijakan tarif ini bisa melemahkan peran utama dolar dan menciptakan peluang bagi pesaingnya, termasuk Bitcoin,” kata Pandl.
“Memang, harga Bitcoin sempat turun dalam jangka pendek. Tapi, setelah beberapa bulan pertama pemerintahan Trump ini, keyakinan saya semakin kuat bahwa Bitcoin akan menjadi aset moneter global,” tambahnya.
Pandl bahkan masih yakin bahwa Bitcoin akan mencapai rekor harga baru tahun ini, meskipun saat ini nilainya masih lesu. “Saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya di Wall Street jika saya tidak percaya bahwa Bitcoin akan menjadi pemenang dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Sementara itu Arthutr Hayes, salah satu pendiri dan mantan CEO bursa kripto BitMEX, melalui cuitannya di X menyampaikan bahwa Bitcoin akan menyentuh $76.500 pada tanggal 15 April 2025, ketika orang Amerika membayar pajaknya.






















