Hariankripto – Stablecoin bukan lagi sekadar alat spekulasi. Laporan terbaru BVNK yang mensurvei lebih dari 4.600 pemegang aset kripto di 15 negara membuktikan hal tersebut secara gamblang. Token berpatok dolar AS kini berubah menjadi instrumen tabungan utama bagi jutaan orang di negara berkembang dan Nigeria memimpin jauh di depan.
Secara global, pemegang stablecoin mengalokasikan 34% tabungan mereka ke USDT dan USDC. Total suplai kedua token ini menembus 320 miliar USD per pertengahan Maret 2026.
Nigeria Pimpin Alokasi Stablecoin Global Menurut BVNK
Data BVNK menempatkan Nigeria di posisi teratas dengan margin besar. Sebanyak 59% warga Nigeria memiliki USDT, sementara 48% untuk USDC. Angka ini jauh melampaui negara mana pun dalam kepemilikan stablecoin global.
Alasannya bukan misteri. Naira, mata uang resmi Nigeria, terus mengalami devaluasi agresif sepanjang 2024–2026. Warga Nigeria membutuhkan aset yang mempertahankan daya beli mereka dan stablecoin menjawab kebutuhan tersebut tanpa harus membuka rekening valas di bank asing.
Untuk Wilaya Asia Tenggara sendiri menurut data, Singapura memimpin di urutan 5 secara global dalam kepemilikan stablecoin secara global, lalu Filipina dan Thailand mengikutinya di urutan 8 dan 9 untuk kepemilikan stablecoin secara global. Dalam data tersebut, warga Singapura menyimpan 29% untuk kepemilikan USDT dan 24% untuk kepemilikan USDC.
USDC Mulai Menyalip USDT di 5 Negara
USDT (Tether) memang masih mendominasi secara global, tetapi USDC menunjukkan tren kebangkitan yang tak bisa diabaikan. Di lima negara Colombia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jerman, dan Brasil dengan kepemilikan USDC justru melampaui USDT.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stablecoin teregulasi. Circle, penerbit USDC, secara konsisten mempublikasikan laporan cadangan bulanan dan mengantongi lisensi di berbagai yurisdiksi. Hasilnya, institusi keuangan dan pengguna yang mengutamakan transparansi beralih ke USDC.
Data Token Terminal memperkuat narasi ini dengan kapitalisasi pasar USDC di jaringan Ethereum baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka $55 Miliar.
Volume Transaksi Stablecoin Melampaui PayPal dan Visa Dalam Setahun
Angka $33 Triliun dalam volume transaksi tahunan menempatkan stablecoin sejajar bahkan melampaui raksasa pembayaran global, seperti PayPal dan Visa. Stablecoin memproses transfer lintas batas dalam hitungan detik dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding SWIFT atau Western Union.
CEO Coinbase, Brian Armstrong menyampaikan bahwa momen seperti ini adalah momen penting bagi dolar AS untuk satu dekade terakhir, sehingga Stablecoin dapat memperluas jangkauan dolar AS ke seluruh dunia secara digital.
Mengapa Negara Berkembang Memimpin Adopsi Stablecoin?
Pola dari data BVNK sangat jelas yaitu negara-negara dengan inflasi tinggi atau mata uang tidak stabil menduduki posisi teratas. Nigeria, Argentina, Colombia, dan Filipina memiliki satu kesamaan warganya mencari perlindungan nilai aset di luar sistem perbankan lokal.
Stablecoin menawarkan akses instan ke dolar AS tanpa persyaratan KYC bank internasional, tanpa minimum deposit yang tinggi, dan tanpa waktu tunggu berhari-hari. Cukup dengan smartphone dan koneksi internet, siapa pun bisa menyimpan kekayaannya dalam bentuk dolar digital.
Kesimpulan
Pola dari data BVNK sangat jelas: negara-negara dengan inflasi tinggi atau mata uang tidak stabil menduduki posisi teratas. Nigeria, Argentina, Colombia, dan Filipina memiliki satu kesamaan warganya mencari perlindungan nilai aset di luar sistem perbankan lokal.
Stablecoin menawarkan akses instan ke dolar AS tanpa persyaratan KYC bank internasional, tanpa minimum deposit yang tinggi, dan tanpa waktu tunggu berhari-hari. Cukup dengan smartphone dan koneksi internet, siapa pun bisa menyimpan kekayaannya dalam bentuk dolar digital.






















