Hariankripto – Pasar kripto kembali bergejolak setelah serangan Israel ke Iran memicu aksi jual tajam di Bitcoin. Namun yang ramai dibahas bukan cuma penurunan harga. Banyak analis on-chain dan investor di X justru menuding sesuatu yang lebih serius. Mereka mengklaim exchange dan market maker terlibat dalam pola dump yang berulang.
Nama-nama exchange besar seperti Binance, Coinbase, dan Wintermute kembali disebut. Tuduhan ini bukan hal baru. Sejak Oktober 2025, pola serupa sudah muncul beberapa kali. Setiap kali pasar rontok di momen likuiditas tipis, jejak wallet yang sama kembali menyala.
Tuduhan Manipulasi Muncul Lagi Wallet Binance Coinbase dan Wintermute Aktif Bersamaan
Dalam hitungan menit setelah berita serangan Israel ke Iran menyebar, aktivitas on-chain langsung ramai. Wallet yang dikaitkan dengan Binance, Coinbase, dan Wintermute dilaporkan aktif hampir bersamaan. Banyak yang bertanya apakah itu penjualan organik atau sesuatu yang direkayasa.
Tuduhan yang beredar menyebut itu bukan jualan asli. Mereka menduga exchange “mencetak” event likuidasi. Caranya sederhana. Pelaku menjaga harga tetap tenang. Lalu saat buku order tipis, mereka melakukan spike atau slam cepat untuk memicu stop loss dan likuidasi beruntun.
Para pengamat menekankan satu hal penting. Jangan cuma lihat candle merah. Perhatikan flows dan perpindahan dana. Di situlah pola sebenarnya terlihat. Mereka menyebut aksi jual hari Sabtu mengulang playbook yang sudah muncul setidaknya tiga kali sebelumnya.
Flashback Oktober 2025 Wintermute Pindahkan $700 Juta Sebelum $19 Miliar Long Terhapus
Banyak pembahasan menarik garis ke belakang. Tepatnya ke 10 Oktober 2025. Saat itu analis on-chain menandai bahwa Wintermute memindahkan sekitar $700 juta ke Binance. Perpindahan itu terjadi beberapa jam sebelum pasar rontok besar.
Dalam waktu sekitar 90 menit, sekitar $19 miliar posisi long berleverage dilaporkan terhapus. Crash tersebut bertepatan dengan pengumuman tarif 100% dari Trump terhadap China. Berita makro itu cukup besar untuk menjelaskan penurunan. Tetapi timing dan pergerakan dana yang berdekatan membuat banyak orang tetap curiga.
CEO Wintermute Evgeny Gaevoy sebelumnya menepis tuduhan itu. Ia menyebutnya flash crash di pasar yang super leverage. Kejadian itu terjadi di malam Jumat yang tidak likuid dan dipicu berita makro. Penjelasan itu masuk akal bagi sebagian trader. Tetapi bagi pihak lain, ini justru memperkuat argumen bahwa pasar kripto mudah “disetir” saat likuiditas tipis.
Dua minggu lalu, pola serupa kembali muncul. Sekitar $2,5 miliar BTC terjual dalam 30 menit. Jejaknya lagi-lagi dikaitkan ke wallet Binance, Coinbase, dan Wintermute. Narasi yang viral adalah pola sinkron. Wallet menyala bersamaan lalu harga jatuh cepat dan likuidasi beruntun terjadi.
Mantan regulator CFTC Salman Banaei juga pernah angkat suara. Banaei menekankan bahwa regulator seharusnya menyelidiki event seperti 10 Oktober 2025. Ia tidak menyatakan manipulasi pasti terjadi. Tetapi ia menilai investigasi resmi penting karena ancaman investigasi saja sudah bisa mengurangi insentif manipulasi.
Bitcoin Rapuh Fear Greed 14 dan Support $63.100 Jadi Penentu Arah Selanjutnya
Di luar drama tuduhan manipulasi, kenyataannya pasar memang sedang rapuh. Bitcoin kini berada sekitar 49% di bawah all-time high Oktober 2025 di $126.000. Sentimen ikut jatuh. Crypto Fear & Greed Index berada di angka 14 yang menunjukkan kondisi fear ekstrem.
Secara teknikal, banyak trader memantau support kunci di $63.100. Jika level itu jebol, pasar membuka ruang ke area psikologis $60.000. Di level itu posisi put terbesar di Deribit menumpuk dengan open interest lebih dari 5.200 BTC. Level seperti ini sering menjadi magnet karena banyak pihak memasang proteksi atau taruhan arah turun.
Namun sejarah juga memberi harapan. Setelah serangan rudal Iran pada April 2024, BTC sempat jatuh ke sekitar $61.000 lalu pulih dan mencetak level lebih tinggi. Setelah serangan Israel pada Juni 2025 ke situs nuklir Iran, BTC turun ke sekitar $103.000 lalu naik lagi melewati $125.000 menjelang Oktober.
Tetapi ada perbedaan besar kali ini. Pasar sudah lemah sebelum berita meledak. US spot Bitcoin ETFs bulan ini berbalik menjadi net seller menurut CryptoQuant. Jika arus spot terus keluar, rebound bisa lebih sulit karena pasar kekurangan pembeli nyata untuk menyerap tekanan jual.
Pergerakan selanjutnya masih kabur. Kalau tuduhan manipulasi benar, volatilitas bisa muncul kapan saja terutama saat likuiditas tipis. Kalau tuduhan itu salah, pasar tetap bisa jatuh hanya karena leverage tinggi dan sentimen risk-off yang menekan. Yang jelas, trader perlu waspada dan memperhatikan flows lebih dari sekadar harga.

























