Hariankripto – Strategy kembali mengumumkan rencana investasinya setelah menghimpun sekitar US$333,7 juta dari penjualan saham biasa. Perusahaan yang sebelumnya bernama MicroStrategy itu menjual sekitar 3,46 juta saham. Namun, Strategy tidak menggunakan dana tersebut untuk membeli Bitcoin.
Keputusan ini membuat jumlah Bitcoin milik Strategy tetap berada di 840.447 BTC. Perusahaan juga sudah melewati delapan pekan tanpa pembelian Bitcoin baru.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan modal Strategy. Sebelumnya, perusahaan sering menjual saham untuk menambah Bitcoin. Sekarang, Strategy lebih banyak menggunakan dana baru untuk memperkuat cadangan kas dan memenuhi kewajiban keuangan.
BREAKING: Michael Saylor's Strategy has not bought Bitcoin for 8 consecutive weeks.
— Bull Theory (@BullTheoryio) August 17, 2026
The company sold 3.46 million shares last week and raised $333.7 million. None of it went into Bitcoin.
The money funded preferred dividends, a $132.2 million repurchase of STRC shares, and cash… pic.twitter.com/fTPAQu4WHF
Perusahaan mengalokasikan sekitar US$150 juta untuk meningkatkan cadangan dolar AS menjadi sekitar US$4,8 miliar. Selain itu, Strategy menghabiskan sekitar US$132,2 juta untuk membeli kembali saham preferen STRC dengan tingkat pembayaran yang dapat berubah.
Strategy juga memakai sebagian dana untuk membayar dividen saham preferen. Kebijakan tersebut memperpanjang kemampuan perusahaan untuk menutup pembayaran bunga dan dividen menjadi sekitar 2,8 tahun.
Strategy selama beberapa tahun membangun identitas sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar. Michael Saylor menjadikan Bitcoin sebagai bagian utama strategi neraca perusahaan sejak Agustus 2020.
Namun, kondisi pasar sekarang berbeda. Strategy harus menghadapi kewajiban bunga dan dividen saham preferen yang mencapai sekitar US$1,72 miliar per tahun.
Selain itu, posisi Bitcoin perusahaan mencatat kerugian belum terealisasi sekitar US$10 miliar berdasarkan data dalam informasi tersebut. Kondisi itu membatasi fleksibilitas perusahaan ketika harga Bitcoin turun.
Salah satu indikator yang mendapat perhatian besar adalah market net asset value atau mNAV. Rasio mNAV Strategy turun menjadi sekitar 1,04 kali. Artinya, valuasi saham perusahaan hampir sama dengan nilai aset yang perusahaan miliki.
Kondisi tersebut mengubah efektivitas strategi penjualan saham. Ketika saham MSTR memiliki premi tinggi terhadap kepemilikan Bitcoin, Strategy dapat menerbitkan saham lalu membeli Bitcoin dengan cara yang berpotensi meningkatkan Bitcoin per saham.
Namun, skema itu semakin sulit ketika mNAV mendekati 1 kali. Jika Strategy terus menjual saham pada valuasi rendah, perusahaan dapat meningkatkan risiko dilusi bagi pemegang saham biasa.
Karena itu, manajemen memilih memperkuat likuiditas. Strategy memakai hasil penjualan saham untuk menambah cadangan kas, membayar kewajiban, serta mendukung instrumen saham preferen.
Pendukung strategi tersebut menilai langkah ini dapat meningkatkan ketahanan neraca. Mereka melihat cadangan kas yang lebih besar sebagai perlindungan ketika pasar Bitcoin melemah.
Sebaliknya, sebagian investor menyoroti risiko dilusi. Mereka menilai penjualan saham yang terus berlangsung dapat menekan nilai kepemilikan pemegang saham lama jika perusahaan tidak menghasilkan pertumbuhan yang sebanding.
Perdebatan tentang strategi modal Strategy juga muncul dalam sesi tanya jawab yang Natalie Brunell pandu bersama CEO Strategy Phong Le dan salah satu pendiri perusahaan, Michael Saylor.
Seorang pemegang saham bernama Rob mengatakan bahwa ia menginvestasikan sekitar US$219.000 ke saham MSTR. Ia membagi investasi tersebut untuk masa depan tiga anaknya dengan nilai sekitar US$73.000 untuk setiap anak. Menurut penjelasannya dalam sesi tersebut, nilai investasinya kemudian turun menjadi sekitar US$60.000. Penurunan itu mencapai lebih dari 70 persen.
Rob mempertanyakan posisi pemegang saham biasa dalam struktur modal Strategy. Ia juga mengkhawatirkan penjualan saham melalui program at-the-market offering atau ATM yang terus berlangsung. Selain itu, ia meminta manajemen mempertimbangkan pembayaran dividen jangka pendek.
A frustrated MSTR holder just confronted Michael Saylor.
— Strategy Simulator (@MSTR_simulator) August 17, 2026
He put $219,000 into the stock for his kids' future and watched it crash by over 70% to $60,000. He asked what answers management had for him.
This was their full response. pic.twitter.com/kei9rPwBv2
Phong Le menegaskan bahwa manajemen tetap menempatkan pemegang saham biasa MSTR sebagai prioritas utama. Menurutnya, Strategy ingin menciptakan nilai dan meningkatkan harga saham melalui kinerja yang melampaui Bitcoin.
Phong Le kemudian membandingkan performa sejak Strategy mulai menerapkan strategi Bitcoin pada Agustus 2020. Dalam penjelasannya, ia menyebut Bitcoin naik sekitar 32 persen dalam periode yang ia gunakan, sementara saham MSTR naik sekitar 41 persen. Michael Saylor memberikan sudut pandang yang berbeda. Ia mengatakan investor yang menginginkan dividen dapat memilih saham preferen Strategy.
Saylor mencontohkan STRD yang menawarkan imbal hasil efektif mendekati 15 persen. Ia juga menyebut STRC dan STRK sebagai instrumen yang memang dirancang untuk memberikan pembayaran dividen dengan karakteristik keuntungan yang berbeda dari saham biasa.
Ia juga menggambarkan MSTR sebagai bentuk Bitcoin yang diperkuat. Dalam pasar bearish, saham dapat mencatat penurunan yang lebih besar daripada Bitcoin. Namun, dalam pasar bullish, Strategy berharap MSTR dapat menghasilkan kenaikan yang lebih tinggi.
Saylor mengatakan bahwa dirinya juga merasakan tekanan tersebut karena memiliki lebih dari 19 juta saham MSTR. Ia mengakui bahwa investor mungkin harus menghadapi periode sulit selama satu hingga dua tahun sebelum struktur kredit bekerja lebih optimal dan ekuitas kembali mendapat manfaat.
Kebijakan terbaru Strategy kembali memicu kritik dari Peter Schiff. Kritikus Bitcoin tersebut menanggapi pengumuman Strategy melalui akun X miliknya. Schiff menilai Strategy kembali mengorbankan pemegang saham MSTR untuk mendukung pemegang saham STRC. Ia menyoroti keputusan perusahaan yang terus menjual saham biasa ketika valuasinya berada dalam tekanan.
Menurut Schiff, Bitcoin yield Strategy sejak awal tahun turun menjadi sekitar 0,9 persen. Ia menyebut angka tersebut telah merosot sekitar 93 persen dalam waktu kurang dari tiga bulan. Schiff juga mengatakan Bitcoin yield Strategy pada kuartal berjalan berada di sekitar negatif 7,3 persen. Pada saat yang sama, harga STRC masih berada di bawah level 95 menurut komentarnya.
Keputusan untuk tidak membeli Bitcoin selama delapan pekan juga menjadi sinyal penting. Strategy untuk sementara terlihat lebih fokus memperkuat struktur modal daripada meningkatkan jumlah Bitcoin.
Arah berikutnya akan sangat bergantung pada harga Bitcoin, mNAV MSTR, biaya modal, serta kemampuan perusahaan menjaga pembayaran bunga dan dividen. Jika premi MSTR kembali meningkat, Strategy dapat memperoleh ruang lebih besar untuk menjalankan strategi akumulasi Bitcoin.
Sebaliknya, jika mNAV tetap mendekati 1 kali, penerbitan saham baru dapat memicu tekanan lebih besar terhadap pemegang saham biasa. Kondisi inilah yang membuat strategi pendanaan Strategy menjadi perhatian utama investor dalam beberapa bulan ke depan.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.