Hariankripto – World Foundation baru saja menggalang dana sebesar $52.5 juta melalui penjualan token WLD kepada sejumlah investor institusi. Pantera Capital memimpin putaran tersebut, sementara Bain Capital Crypto, Eightco Holdings, Selini Capital, Susquehanna Crypto, dan investor lain turut berpartisipasi.
World Foundation mengelola protokol World, proyek identitas digital yang Sam Altman ikut dirikan bersama Alex Blania dan Max Novendstern. Organisasi itu akan menggunakan modal baru untuk memperluas World ID kepada perusahaan, konsumen, serta agen kecerdasan buatan.
Pendanaan ini muncul saat perkembangan AI meningkatkan jumlah bot, deepfake, akun palsu, dan tindakan otomatis di internet. Karena itu, World menawarkan teknologi proof of human untuk membantu platform membedakan manusia asli dari sistem AI.
Pantera Capital Memimpin Penjualan Token WLD
Seluruh investor insitusi yang ikut dalam putaran terbaru menyepakati masa penguncian token WLD selama 12 bulan. Ketentuan tersebut mencegah investor menjual token yang mereka beli sebelum periode penguncian berakhir.
Selain Pantera Capital, World Foundation menarik dukungan dari perusahaan investasi kripto dan institusi pasar modal. Susunan investor itu menunjukkan bahwa pelaku industri masih melihat peluang dalam teknologi identitas digital berbasis blockchain.
Congrats to @worldcoinfnd on raising $52.5M! 👏
— Blockster (@BlocksterCom) July 24, 2026
Backed by @PanteraCapital, @BainCapCrypto, @Eightcoholdings & @SeliniCapital, World continues to scale as AI reshapes the internet.
Massive ecosystem in the works! 🚀 @Tinder @Zoom @DocuSign @Shopify @okta https://t.co/1IlkDBAjta
General Partner Pantera Capital Cosmo Jiang menilai perkembangan AI semakin memperjelas kebutuhan terhadap proof of human. Platform digital membutuhkan alat yang dapat mengonfirmasi keberadaan manusia tanpa meminta pengguna membuka seluruh identitas pribadi mereka.
Putaran terbaru melanjutkan penjualan token senilai $135 juta pada Mei 2025. Saat itu, World Assets menjual WLD kepada Andreessen Horowitz dan Bain Capital Crypto dengan harga pasar untuk mendukung ekspansi jaringan di Amerika Serikat dan negara lain.
Namun, kedua putaran memakai struktur berbeda. Penjualan pada 2025 langsung menambah jumlah WLD yang beredar, sedangkan transaksi terbaru mengharuskan investor mengunci token selama satu tahun. Dengan demikian, World Foundation dapat memperoleh modal tanpa langsung menambah tekanan jual di pasar terbuka.
World Foundation mengumumkan pendanaan ini ketika proyek tersebut merayakan tahun ketiganya. Organisasi itu sekarang ingin mengalihkan fokus dari pembangunan jaringan menuju perluasan fungsi World ID dalam aktivitas digital sehari-hari.
World ID Membidik Perusahaan dan Agen AI
World ID memungkinkan seseorang membuktikan bahwa dirinya merupakan manusia unik tanpa mengungkap nama, alamat, atau informasi identitas lain kepada platform yang mereka gunakan.
Untuk memperoleh verifikasi penuh, pengguna perlu mendatangi perangkat berbentuk bola yang bernama Orb. Perangkat tersebut mengambil citra mata dan wajah, lalu menjalankan pemeriksaan untuk memastikan bahwa pengguna merupakan manusia unik.
Setelah proses itu, pengguna dapat menyimpan kredensial World ID pada perangkat mereka. Selanjutnya, teknologi zero-knowledge proof membantu pengguna menunjukkan status manusia tanpa membagikan data biometrik kepada setiap aplikasi.
World Foundation ingin membawa sistem tersebut ke platform perusahaan dan layanan konsumen. Zoom menggunakan teknologi World untuk membantu peserta rapat mengonfirmasi manusia asli di balik tampilan video. Sementara itu, Docusign mengembangkan fungsi World ID untuk memperkuat kepercayaan dalam proses penandatanganan dokumen.
Tinder juga memperluas integrasi World ID agar pengguna dapat menampilkan tanda manusia terverifikasi. Selain itu, Vercel membantu pengembang menambahkan pemeriksaan manusia ke dalam alur kerja agen AI.
Okta mengambil pendekatan serupa melalui konsep Human Principal. Teknologi itu bertujuan menghubungkan tindakan agen AI dengan manusia yang memberikan perintah atau kewenangan. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengetahui apakah agen menjalankan tugas atas persetujuan pengguna nyata.
World ID 4.0 turut memperkuat strategi ekspansi tersebut. Versi terbaru membawa arsitektur berbasis akun, rotasi kunci, pemulihan akses, dukungan beberapa kunci, pengelolaan sesi, serta perangkat pengembangan sumber terbuka.
Menurut World Foundation, lebih dari 39 juta orang telah bergabung dengan World Network. Sekitar 18 juta orang telah menyelesaikan verifikasi melalui Orb, sedangkan pengguna telah menghasilkan lebih dari 475 juta bukti World ID sejak peluncuran jaringan.
Angka itu menunjukkan pertumbuhan pengguna, tetapi integrasi perusahaan akan menentukan kegunaan World ID dalam jangka panjang. World perlu membuktikan bahwa teknologinya mampu menangani kebutuhan berskala besar tanpa mengorbankan privasi dan kenyamanan pengguna.
Regulator Menyoroti Penggunaan Data Biometrik
Ekspansi World ID menghadapi tantangan besar karena sistem tersebut menggunakan data biometrik untuk memeriksa keunikan manusia. Sejumlah regulator mempertanyakan proses persetujuan pengguna, keamanan data, pemindahan informasi lintas negara, dan pemberian token sebagai imbalan pemindaian iris.
Hong Kong memerintahkan World menghentikan operasi pada 2024 setelah regulator menemukan persoalan terkait pengumpulan gambar wajah dan iris. Selanjutnya, pengadilan Kenya memerintahkan entitas World menghapus data biometrik yang mereka kumpulkan tanpa dasar hukum yang memadai.
Brasil juga melarang World memberikan uang atau token sebagai imbalan pemindaian iris. Regulator Brasil menilai insentif finansial dapat memengaruhi kebebasan seseorang saat memberikan persetujuan.
Di sisi lain, Korea Selatan menjatuhkan denda kepada Worldcoin Foundation dan Tools for Humanity karena regulator menemukan pelanggaran dalam pemrosesan serta pengiriman data pribadi ke luar negeri.
Indonesia mengambil tindakan serupa pada 2025. Kementerian Komunikasi dan Digital membekukan sementara Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Worldcoin dan World ID. Komdigi kemudian memperpanjang penghentian layanan setelah memeriksa praktik pengumpulan serta pemrosesan data iris warga Indonesia.
Tekanan regulator tersebut tidak langsung menghentikan minat investor. Namun, World Foundation perlu menjawab kekhawatiran pemerintah sebelum memperluas operasinya ke lebih banyak pasar.
Pendanaan $52.5 juta memberi World sumber daya untuk memperbesar jaringan, mengembangkan teknologi, dan menjalin kemitraan baru. Meski demikian, keberhasilan World ID tidak hanya bergantung pada jumlah modal dan pengguna.
World juga perlu memastikan transparansi, kepatuhan hukum, serta perlindungan data biometrik. Tanpa kepercayaan publik, teknologi proof of human akan sulit memperoleh penerimaan luas meskipun ancaman bot dan deepfake terus meningkat.

























