Hariankripto – Akun anonim X dengan username @its0xMike membongkar pola licik di Telegram. Mike melihat jaringan channel yang mendorong puluhan token scam di Ethereum dan BNB Chain. Channel itu mengincar orang yang suka cuan cepat. Mereka membangun rasa percaya lewat gaya komunitas investasi.
Kelompok jaringan channel itu membuat channel tersebut sebagai komunitas investasi, klub trading, marathon privat, dan grup insider dan mengumpulkan ratusan ribu subscriber. Mereka lalu menembakkan kontrak token baru secara rutin. Banyak token itu berujung honeypot atau rug pull.
Investigasi itu menyorot satu nama yang sering muncul. Jaringan itu memakai sosok Pavlo Tuptynskyi, seorang event host asal Ukraina. Mereka menampilkan video dan voice note yang terdengar sangat meyakinkan. Suara itu mendorong orang untuk masuk bareng.
Cara jaringan ini membangun jebakan lewat komunitas palsu
Jaringan channel ini tidak jual token lewat satu tempat. Kelompok jaringan channel ini menggerakkan lebih dari 12 channel yang saling sinkron dan memakai gaya tulisan yang mirip. Mereka mengatur waktu posting yang hampir sama dan juga membagikan kontrak yang terlihat satu paket.
Polanya adalah dengan memainkan psikologi massa dan menjanjikan akses eksklusif. Mereka juga mengklaim punya info orang dalam dan juga menyebut nama dana besar untuk menaikkan percaya diri member sehingga memicu FOMO setiap hari.
Mereka juga memperkuat narasi lewat konten lintas platform. Skema Scrooge Trading bahkan mengarahkan orang ke komunitas investasi privat. Tim itu memanfaatkan Telegram, YouTube, dan Instagram. Mereka menempelkan wajah Pavlo di banyak materi promosi.
Bukti kuat muncul dari pola suara dan kontrak pada Mystiko dan Saga
Kasus Mystiko memperlihatkan pola yang sangat jelas. Pada 1 April 2024, channel PRO TRADING | SIGNALS membagikan kontrak token dan link beli. Kontrak itu memakai alamat 0xD67451505aFa224A6194749f4C29CA4Ea17E6FdE. Setelah posting itu muncul, suara yang mengatasnamakan Pavlo langsung masuk.
Voice note itu mendorong aksi cepat. Ia berkata mereka masuk bareng dana. Ia menyebut momen itu sebagai entry terbaik. Ia memuji proyek itu tanpa jeda. Ia membungkus ajakan dengan cerita listing dan lonjakan harga.
Data setelahnya terasa brutal. Analisis holder menunjukkan 520 dari 521 holder tidak bisa jual. Skema honeypot menutup pintu keluar. Pelaku lalu menarik likuiditas. Banyak member menanggung rugi besar.
Beberapa hari kemudian, promosi berpindah ke Saga. Narasi tetap sama, hanya nama token yang berubah. Akun – Akun tersebut menjual mimpi “masuk sebelum semua orang”. Mereka menjanjikan peluang berkali lipat. Mereka mengajak orang beli bareng.
Drama Aztec dan WalletConnect menunjukkan koordinasi real time
Kasus Aztec menunjukkan koordinasi yang lebih rapi. Pada 8 April 2024, channel memulai promosi sale. Member menerima dorongan untuk ikut. Lalu sebuah pesan tiba-tiba muncul dan menyuruh orang berhenti beli.
Tidak lama kemudian, voice note dari Pavlo muncul. Ia memberi alasan soal kesalahan developer. Ia mengklaim tim sudah memperbaiki masalah. Ia menjanjikan link presale baru. Jaringan lalu menerbitkan kontrak baru hanya satu menit setelah voice note.
Urutan ini terlihat seperti operasi langsung. Promosi jalan dulu. Dana masuk setelah itu. Masalah kontrak muncul sebagai pengalih perhatian. Mereka lalu memberi penjelasan cepat agar member tetap tenang. Mereka mengarahkan pembelian ulang dengan instruksi baru.
Setelah itu, mereka kembali memakai pola yang sama pada WalletConnect. Akun – Akun tersebut bicara soal listing bursa. Selanjutnya membujuk minat investor dengan menekan ekspektasi harga naik. Mereka juga tetap mengandalkan suara dan wajah yang sama.
Kamu bisa ambil pelajaran penting dari kasus scam token Telegram ini. Caranya adalah harus cek kontrak sebelum beli, lalu harus curiga saat sebuah grup menjual “insider info”. Ketika kedua kemungkinan itu terjadi, kamu harus keluar cepat saat token membatasi jual. Kamu juga perlu memeriksa izin wallet dan mencabut approval yang tidak perlu.























