Hariankripto – Pasar kripto mengalami penurunan tajam pada Sabtu setelah Bitcoin mencatat kenaikan besar dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan cepat tersebut menghapus sekitar $100 miliar nilai pasar kripto hanya dalam hitungan menit.
Penurunan ini mengejutkan banyak trader karena terjadi setelah Bitcoin menunjukkan momentum positif. Sebelumnya, Bitcoin naik hampir 30% dalam lima hari dan mencapai harga sekitar $79.500. Kenaikan tersebut membuat Bitcoin berada pada kondisi paling jenuh beli sejak November 2024.
🩸 MASSIVE CRYPTO FLASH CRASH
— Crypto Rover (@cryptorover) August 22, 2026
$500 million worth of late long positions were liquidated as the market plunged:
Bitcoin: -$1,935 (-2.5%)
Ethereum: -$130 (-5%)
Solana: -$11.50 (-11.5%)
XRP: -$0.60 (-37%)
All of this happened within MINUTES. pic.twitter.com/QsQ24TyGQh
Namun, kondisi pasar berubah dengan cepat. Tekanan jual besar muncul ketika likuiditas pasar akhir pekan menurun. Akibatnya, banyak posisi leverage mengalami likuidasi dan mempercepat penurunan harga.
Bitcoin dan Altcoin Mengalami Penurunan Besar
Bitcoin mengalami penurunan sekitar $1.935 atau 2,5% dalam waktu singkat. Selain Bitcoin, beberapa aset kripto besar lain juga mengalami tekanan kuat.
Ethereum turun sekitar 5% dengan penurunan harga mencapai $130. Sementara itu, Solana mengalami penurunan lebih dalam sebesar 11,5% atau sekitar $11,50.
🚨 The biggest flash crash in crypto since October 10, 2025 just happened.
— Bull Theory (@BullTheoryio) August 22, 2026
$108 Billion erased from market in just 6 minutes.
$500 million in longs liquidated in 30 minutes.
Here is exactly what happened. 🧵 pic.twitter.com/tcYfr62oMr
Di sisi lain, XRP menjadi aset dengan penurunan paling besar. Harga XRP turun sekitar 37% atau kehilangan nilai sekitar $0,60 dalam pergerakan pasar yang sangat cepat.
Pergerakan ekstrem ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih memiliki tingkat volatilitas tinggi, terutama ketika banyak trader menggunakan strategi leverage.
Ratusan Juta Posisi Long Mengalami Likuidasi
Selain penurunan harga, pasar juga menghadapi gelombang likuidasi besar. Data pasar menunjukkan sekitar $500 juta hingga lebih dari $600 juta posisi long mengalami likuidasi ketika harga bergerak turun.
Trader yang membuka posisi long berharap harga aset terus naik. Namun, ketika harga turun melewati batas tertentu, sistem perdagangan otomatis menutup posisi tersebut untuk membatasi kerugian.
Sebagian besar likuidasi terjadi pada platform Binance. Dalam beberapa menit terakhir sebelum pasar mulai stabil, sekitar $500 juta posisi long hilang akibat penurunan tajam.
Kondisi ini menunjukkan risiko besar dari penggunaan leverage tinggi dalam perdagangan kripto.
Efek Inverse Cramer Kembali Menjadi Perbincangan
Penurunan Bitcoin juga menarik perhatian komunitas kripto karena terjadi setelah komentar Jim Cramer dari CNBC. Sehari sebelum crash, Jim Cramer menyarankan investor untuk membeli Bitcoin.
Beberapa trader kemudian mengaitkan kejadian tersebut dengan istilah “inverse Cramer effect”. Istilah ini muncul dari candaan komunitas yang menganggap prediksi Jim Cramer sering bergerak berlawanan dengan hasil pasar.
Meskipun banyak pengguna media sosial membahas fenomena tersebut, analis menilai penurunan kali ini lebih berkaitan dengan kondisi teknikal pasar. Bitcoin sebelumnya mengalami kenaikan cepat sehingga banyak investor mengambil keuntungan.
Analis Menilai Crash Sebagai Proses Deleveraging
Beberapa analis melihat penurunan ini sebagai proses deleveraging yang sehat. Menurut mereka, pasar membutuhkan koreksi setelah mengalami kenaikan besar dalam waktu singkat.
Selain itu, perdagangan akhir pekan memiliki likuiditas yang lebih rendah dibandingkan hari kerja. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga menjadi lebih mudah berubah ketika muncul tekanan jual besar.
Penurunan ini menjadi flash crash terbesar sejak Oktober 2025. Namun, setelah mengalami tekanan awal, harga beberapa aset mulai menunjukkan pemulihan dan bergerak lebih stabil.
Trader Soroti Manipulasi Saat Likuiditas Rendah
Menanggapi crash tersebut, CNBC Crypto Trader menyampaikan pendapat melalui platform X. Mereka menyebut pasar mengalami periode panjang tanpa volatilitas sehingga beberapa pihak mencoba mendapatkan keuntungan ketika kondisi likuiditas rendah.
Market makers playing dirty games on behalf of exchanges.
— Ran Neuner (@cryptomanran) August 22, 2026
They had no volatility and made no money for so long, now they are trying to make it back on the low liquidity weekend. They wait for pumps and then cause red candles that liquidate there leveraged users.
$500m in longs… pic.twitter.com/okbYJoctGb
Menurut unggahan tersebut, beberapa pelaku pasar menunggu kenaikan harga lalu memicu tekanan jual yang dapat melikuidasi pengguna dengan posisi leverage.
























