HarianKripto.id – Dunia crypto kembali dibuat geger dengan kejatuhan dramatis $OM coin milik ekosistem Mantra DAO. Dalam hitungan kurang dari empat jam, nilai token ini anjlok lebih dari 90%, menghapus miliaran dolar dari kapitalisasi pasar hanya dalam sekejap mata.
Dalam hitungan kurang dari empat jam, nilai token ini anjlok lebih dari 90%. Hal ini membuat menghapus miliaran dolar dari kapitalisasi pasar hanya dalam sekejap mata.
Mari kita bahas kronologinya. Awalnya, $OM diperdagangkan dengan cukup stabil di atas harga $6. Namun perlahan tapi pasti, mulai menunjukkan tren pelemahan.
Berdasarkan pantauan CoinMarketCap, sekitar pukul 23:35 WIB pada 13 April 2025, harga mulai turun ke level $5,2. Selanjutnya berganti hari pada 14 April pukul 01:20 mulai merosot tajam hingga $1,1 pada pukul 01:55.
Hanya butuh kurang dari satu jam untuk melihat bagaimana satu token bisa melemah begitu cepat di pasar crypto. Pada pukul 17:00 WIB tanggal 14 April, harga OM tercatat di angka $0,72 atau turun hingga 88,51% dalam satu hari.
Walau begitu, harga ini belum menyentuh titik terendah sepanjang masa yang pernah dicapai $OM, yakni $0,01728 dua tahun lalu. Penurunan brutal ini menghapus hampir semua keuntungan yang telah dikumpulkan sejak lonjakan harga all time high $9,04 pada 23 Februari 2025 silam.
Kini, $OM diperdagangkan di kisaran $0,6—turun sekitar 93% dari ATH-nya. Tidak heran, muncul berbagai spekulasi bahwa tim internal proyek mungkin telah menjual token mereka, apalagi mengingat ada klaim bahwa mereka menguasai hingga 90% dari total pasokan token.
Namun sampai sekarang, belum ada konfirmasi resmi mengenai penyebab utama kejatuhan ini.
Tanggapan dari pihak Mantra
Tanggapan dari pihak Mantra DAO sendiri juga masih menimbulkan pertanyaan. Dalam pernyataan resmi, mereka menyebut bahwa crash ini dipicu oleh likuidasi paksa yang sembrono oleh exchange terpusat, tanpa adanya pemberitahuan atau margin call kepada para pemegang $OM.
Co-founder Mantra, John Patrick Mullin, menyebut bahwa penutupan posisi tersebut dilakukan secara tiba-tiba oleh CEX. Dia juga tidak secara gamblang menyebut CEX siapa yang bermasalah.
Guys let's get a couple things straight:
— JP Mullin (????, ????️) (@jp_mullin888) 13 April 2025
– The TG was not deleted.
– The Team tokens all remain in custody, verifiable at this address – mantra1yejpacug78zuqkzwwuc94c0a2al4mz4yfqquam
– We are actively figuring out why these massive forced liquidations occurred and will provide…
“Kami telah menemukan bahwa pergerakan pasar $OM dipicu oleh penutupan paksa yang sembrono oleh bursa terpusat terhadap akun-akun yang memegang $OM. Waktu dan kedalaman penurunan harga menunjukkan bahwa posisi akun ditutup secara mendadak tanpa peringatan atau pemberitahuan yang memadai,” tulis John Patrick Mullin di X miliknya pada 14 April 2025 pukul 6:16 pagi.
“Fakta bahwa hal ini terjadi saat jam-jam likuiditas rendah di Minggu malam waktu UTC (pagi hari di Asia) menunjukkan adanya kelalaian atau bahkan kemungkinan adanya manuver pasar yang disengaja oleh bursa-bursa tersebut.”
“Rekan bursa terpusat memang memiliki peran penting dalam menyediakan likuiditas bagi proyek-proyek seperti kami. Kami bekerja sama dengan mereka secara dekat, namun mereka tetap memiliki kewenangan diskresi yang sangat besar. Ketika kekuasaan seperti itu dijalankan tanpa pengawasan internal maupun eksternal yang memadai, kejadian seperti ini bisa, dan akan, terjadi, yang merugikan proyek dan investor,” tulisnya menambahkan.
Dari sisi teknis, Mantra adalah blockchain Layer-1 yang dirancang untuk tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dengan kepatuhan regulasi sebagai fondasi. Menggunakan Cosmos SDK dan mendukung IBC serta CosmWasm, jaringan ini memungkinkan interoperabilitas dan smart contract lintas chain.
Dugaan Rug Pull di Mantra
Tim Mantra DAO dengan tegas membantah tuduhan soal rug pull atau aksi jual token secara diam-diam oleh tim pengembang. Mereka menyatakan bahwa alokasi token yang dimiliki oleh tim masih dalam kondisi terkunci dan bisa dibuktikan langsung di jaringan blockchain.
Klaim ini menjadi penting untuk meredam spekulasi yang beredar, apalagi setelah insiden kejatuhan harga $OM yang sangat drastis memicu kegelisahan banyak investor.
Sebenarnya, salah satu penyebab utama keruntuhan ini adalah mekanisme forced liquidation. Dalam dunia trading leverage, ketika posisi investasi jatuh di bawah batas minimum yang disyaratkan, maka sistem akan secara otomatis menjual aset untuk menutup kerugian.
Nah, ketika penjualan otomatis ini terjadi dalam volume besar dan secara serentak, maka harga bisa anjlok dalam waktu sangat singkat—seperti yang terjadi pada $OM.
Bagi Mantra, yang merupakan salah satu pionir di sektor tokenisasi aset dunia nyata (RWA), peristiwa begini tentu berdampak besar. Bukan hanya soal reputasi, tetapi kepercayaan investasi di RWA bisa saja terganggu di masa-masa mendatang.
Apalagi Mantra memiliki kemitraan strategis dengan Google Cloud dan DAMAC Group. Hal ini tentu saja bisa membuat mereka trauma dan lebih berhati-hati dalam investasi di masa depan.
Hank Huang, CEO dari Kronos Research, menyatakan kepada Decrypt bahwa insiden seperti ini menjadi ujian nyata bagi kepercayaan investor. Dia menekankan bahwa sektor RWA memang masih berada pada tahap awal pertumbuhan dan belum matang sepenuhnya.
“Insiden seperti ini menguji kepercayaan investor dan menimbulkan pertanyaan kritis tentang bagaimana memastikan aset tokenisasi dapat dibuat lebih aman untuk diadopsi secara umum,” kata Hank Huang, dikutip HarianKripto

























