Hariankripto – Jimmy Wales, co-founder Wikipedia, melontarkan pernyataan mengejutkan tentang Bitcoin. Dalam unggahan di X pada 25 Februari 2026, Wales menyebut Bitcoin “gagal total” sebagai mata uang dan penyimpan nilai. Ia bahkan memprediksi harga Bitcoin bisa anjlok di bawah $10.000 pada tahun 2050.
Pernyataan ini langsung memantik perdebatan sengit. Pasalnya, Bitcoin saat ini masih berada di harga $65.908. Jadi, apakah prediksi Wales masuk akal atau sekadar opini tanpa dasar?
Jimmy Wales Nilai Bitcoin Tidak Punya Masa Depan Cerah
Wales memang tidak memprediksi Bitcoin akan mati. Ia mengakui desain jaringan Bitcoin cukup kuat untuk bertahan dalam jangka panjang. Namun menurutnya, bertahan bukan berarti sukses.
Wales menilai Bitcoin terlalu volatil dan sulit digunakan. Co-Founder Wikipedia itu juga menyoroti fakta bahwa Bitcoin belum diterima secara luas sebagai alat pembayaran. Karena alasan itu, Wales lebih percaya aset tradisional seperti emas, perak, properti, dan karya seni akan tetap mendominasi sebagai penyimpan nilai.
People who think that Bitcoin is going to zero are likely mistaken. The design is robust enough that it will continue to exist in perpetuity, barring some currently unforeseen breakdown in cryptography or a surprise 51% attack (even then, a fork would carry on I would imagine).…
— Jimmy Wales (@jimmy_wales) February 25, 2026
Dalam postingannya di X, Wales menyebut Bitcoin hanya “aset spekulatif”. Ia juga meragukan klaim bahwa adopsi AI atau dukungan institusi bisa menopang harga dalam jangka panjang. Menurutnya, institusi masuk ke Bitcoin karena profit, bukan keyakinan ideologis.
Komunitas Kripto Langsung Membantah Keras
Respon dari pendukung Bitcoin datang dengan cepat. Mereka menyorot beberapa fakta penting sebagai bantahan.
Pertama, adopsi institusi terus meningkat. Data menunjukkan 84 perusahaan publik kini memegang lebih dari 1,12 juta BTC secara kolektif. Strategy (sebelumnya MicroStrategy) sendiri memegang 717.722 BTC, setara lebih dari 3,4% total suplai Bitcoin.
Kedua, ETF spot Bitcoin AS mencatat arus masuk besar. Pada hari yang sama Wales mengunggah komentarnya, ETF Bitcoin mencatat net inflow sekitar $506,5 juta. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam tiga minggu terakhir.
Ketiga, suplai Bitcoin memang terbatas hanya 21 juta koin. Kelangkaan ini menjadi argumen utama pendukung Bitcoin untuk menilai harga akan terus naik dalam jangka panjang.
Beberapa pengguna X bahkan menyerang balik model donasi Wikipedia. Mereka menilai struktur insentif Bitcoin justru lebih berkelanjutan daripada platform yang bergantung pada sumbangan.
Apakah Prediksi Jimmy Wales Bisa Terbukti?
Ada bagian dari kritik Wales yang memang sulit dibantah. Bitcoin masih sangat volatil. Penggunaan untuk transaksi harian juga belum masif. Rekam jejaknya sebagai penyimpan nilai stabil pun masih pendek daripada emas yang sudah teruji ratusan tahun.
Namun prediksi harga di bawah $10.000 di tahun 2050 tetap terdengar ekstrem dan konyol. Untuk mencapai angka itu, Bitcoin harus kehilangan sekitar 85% nilainya dalam 24 tahun ke depan. Padahal, adopsi institusi justru semakin bertambah, bukan menyusut.
Wales sebenarnya tidak memprediksi kematian Bitcoin. Ia memprediksi Bitcoin akan jadi tidak relevan. Perdebatan ini menegaskan satu hal penting: konsensus soal masa depan Bitcoin masih jauh dari kata final.
Kesimpulan
Jimmy Wales menilai Bitcoin akan bertahan tapi gagal sebagai mata uang dan penyimpan nilai. Ia memprediksi harga bisa terjun di bawah $10.000 di tahun 2050. Komunitas kripto membantah dengan data adopsi institusi dan kelangkaan suplai. Perdebatan ini menunjukkan bahwa pandangan soal masa depan Bitcoin masih sangat terpecah.

























