Hariankripto – Komputer kuantum terdengar seperti cerita sci-fi. Namun topik ini sekarang masuk ke debat serius di komunitas Bitcoin. Alasannya jelas. Sekitar 6,9 juta BTC tersimpan di wallet yang public key-nya terekspos. Termasuk estimasi sekitar 1 juta lebih BTC yang berada di wallet publik Satoshi Nakamoto.
Jika suatu hari komputer kuantum mampu memecahkan kriptografi yang Bitcoin pakai, maka bisa menjadi target. Komunitas pun menghadapi pilihan yang tidak nyaman. Mereka bisa melindungi koin yang rentan, atau membiarkannya “hilang” jika pemilik tidak pernah memindahkan dana.
Perdebatan ini menguat di ETHDenver, saat pembahas BIP 360 menjelaskan besarnya taruhan. Mereka menyoroti bahwa Taproot menampilkan tweaked public key di on-chain, dan itu bukan satu-satunya sumber risiko.
Apa yang Sebenarnya Bisa Dibobol oleh Komputer Kuantum?
Bitcoin mengandalkan skema tanda tangan digital seperti ECDSA dan Schnorr untuk melindungi private key. Dengan komputer klasik, membobolnya butuh waktu yang nyaris mustahil. Namun komputer kuantum yang menjalankan algoritma seperti Shor secara teori bisa mempercepat proses itu.
Koin yang paling rentan berada di alamat lama Pay-to-Public-Key (P2PK). Di format ini, public key terlihat permanen di blockchain. CoinShares memperkirakan sekitar 1,6 juta BTC berada di tipe alamat lama, atau kira-kira 8% dari suplai. Namun eksposur tidak berhenti di situ.
Alamat Taproot juga bisa mengungkap public key tertentu. Alamat yang dipakai berulang kali juga bisa membuka public key saat transaksi sebelumnya. Jika digabung, sebagian analisis menyebut sekitar 30% suplai Bitcoin berada dalam kondisi public key terekspos.
Analis Willy Woo sempat menyoroti hal yang janggal. Ia melihat pemakaian Taproot turun tajam dari 2024 ke 2025. Ia menganggap penurunan ini tidak biasa untuk format alamat yang relatif baru. Ia juga mengaitkannya dengan isu kerentanan quantum pada Taproot, sementara format SegWit dan Legacy dinilai tidak berada di posisi risiko yang sama.
Q-Day Itu Dekat atau Masih Lama Banget?
Q-Day adalah istilah untuk momen saat komputer kuantum cukup kuat untuk membongkar kriptografi kunci publik yang dipakai Bitcoin. Masalahnya, tidak ada kesepakatan kapan itu terjadi. Di sinilah debat menjadi panas.
Charles Edwards dari Capriole Fund menerbitkan laporan pada 20 Februari. Ia menganggap Bitcoin sudah pantas didiskon 20% karena risiko quantum. Modelnya memberi peluang 20% bahwa Q-Day bisa datang pada 2028. Ia juga memperingatkan bahwa jika Bitcoin gagal upgrade, diskon risiko bisa naik tajam dalam beberapa tahun.
Edwards menunjuk performa 2025 sebagai sinyal. Ia menilai pasar mulai memasukkan risiko ini, karena Bitcoin mencatat tahun post-halving negatif pertama dalam sejarah meski kondisi likuiditas global membaik. Ia menyebut ini sebagai “Quantum Event Horizon,” yaitu fase ketika waktu upgrade sudah mepet dengan waktu kedatangan Q-Day.
CoinShares menolak kesimpulan itu. Mereka menyebut ancaman quantum masih 10 sampai 20 tahun lagi. Coinshares menilai sistem kuantum membutuhkan sekitar 100.000 kali lebih kuat dari yang ada sekarang. Mereka juga memperkirakan hanya sekitar 10.200 BTC yang realistis bisa dicuri dan dijual cepat untuk mengganggu pasar. Sisanya tersebar di lebih dari 32.000 wallet, sehingga eksploitasi massal cepat dinilai tidak praktis.
Namun ada bahaya lain yang lebih dekat, dan ini jarang dibahas. Beberapa wallet lama pada periode 2011 sampai 2015 diduga memakai generator angka acak yang lemah. Kasus seperti Libbitcoin Explorer, yang terungkap pada akhir 2025, memperlihatkan private key bisa terekspos karena random seed hanya memakai waktu sistem. Ini bukan isu kuantum. Ini isu kualitas pembuatan kunci.
Di sinilah AI jadi ancaman nyata. AI modern unggul membaca pola. Model machine learning bisa membantu menebak output pseudo-random generator yang lemah jauh lebih efisien daripada brute force biasa. Artinya, tanpa komputer kuantum pun, wallet tua dengan entropy buruk tetap bisa jadi sasaran.
BIP 360 Muncul sebagai Fondasi Pertahanan Baru Bitcoin
Komunitas pengembang mulai menyiapkan jalur mitigasi. Salah satu langkah konkret adalah BIP 360, yang masuk ke repositori resmi Bitcoin Improvement Proposal pada 11 Februari 2026. Proposal ini ditulis oleh Hunter Beast, Ethan Heilman, dan Isabel Foxen Duke.
BIP 360 memperkenalkan Pay-to-Merkle-Root (P2MR). Ini adalah tipe output baru yang pembuatannya “mirip Taproot,” tetapi berusaha menghapus jalur yang kemungkinan quantum-vulnerable. Pada Taproot, public key yang sudah di-tweak bisa muncul di on-chain. P2MR menghapus eksposur itu dengan memaksa spending lewat script path dan Merkle proof.
Ada trade-off yang harus diterima. Transaksi bisa menjadi lebih besar. Namun permukaan serangannya mengecil. BIP 360 juga bukan solusi akhir. Ia lebih seperti batu loncatan untuk soft fork berikutnya, yang kelak bisa memasukkan skema tanda tangan post-quantum seperti Dilithium atau SPHINCS+.
Tantangan terbesarnya bukan teknis saja. Tantangan terbesarnya adalah sosial dan politik. Komunitas kini berdebat soal koin yang tidak pernah berpindah. Ada ide untuk membekukan alamat P2PK dan koin Satoshi setelah tenggat tertentu. Ada juga yang menolak karena kemungkinan melanggar prinsip kepemilikan dan immutability Bitcoin. Foxen Duke sendiri menyebut upaya mencapai konsensus tentang “freeze” akan sangat sulit.
Edwards mengambil posisi yang lebih keras. Ia ingin semua koin bermigrasi ke alamat tahan-quantum sebelum 2028, dan koin yang tidak bermigrasi hilang atau burned. Sementara Michael Saylor menilai urgensi itu berlebihan. Saylor percaya ancaman quantum masih 10 sampai 20 tahun dan Bitcoin akan upgrade saat waktunya tiba. Pandangan ini sejalan dengan CoinShares dan Adam Back yang menilai ancaman itu masih “puluhan tahun lagi.”
Kesimpulan
Bitcoin mungkin bisa bertahan saat komputer kuantum datang, tetapi jendela persiapannya sudah tersedia dari sekarang. Jutaan BTC berada di kondisi lebih rentan karena public key terekspos. Waktu Q-Day masih butuh perdebatan.
Di saat yang sama, AI bisa menyerang wallet lama lewat kelemahan entropy yang sudah ada hari ini. BIP 360 hadir sebagai fondasi teknis untuk mengurangi permukaan serangan, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada migrasi pengguna dan kesepakatan komunitas.























