Hariankripto – Kasus Jeffrey Epstein kembali menarik perhatian Wall Street setelah anggota Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) menyiapkan penyelidikan terhadap hubungan perbankan JPMorgan Chase dengan mendiang pelaku kejahatan seksual tersebut. Rencana ini menempatkan salah satu bank terbesar di AS itu dalam sorotan baru, terutama terkait keputusan para eksekutif dalam mempertahankan Epstein sebagai nasabah selama bertahun-tahun.
Laporan CNBC pada Kamis (5/11/2026) menyebutkan bahwa staf Komite Keuangan Senat AS ingin menelusuri bagaimana jajaran pimpinan JPMorgan menangani hubungan dengan Epstein. Kabar tersebut juga muncul ketika saham JPMorgan (JPM) mengalami tekanan di pasar saham. Menariknya, persoalan ini turut bersinggungan dengan industri kripto melalui jejak investasi Epstein di Coinbase dan ekspansi bisnis blockchain JPMorgan.
Rencana penyelidikan terhadap JPMorgan muncul setelah Partai Demokrat berhasil menguasai Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS dalam pemilu paruh waktu November 2026. Kemenangan tersebut membuka peluang bagi Demokrat untuk menggunakan kewenangan pengawasan Kongres ketika mereka mengambil alih kendali pada Januari 2027.
Menurut laporan CNBC, staf Komite Keuangan Senat berencana memeriksa keputusan para eksekutif senior JPMorgan dalam menangani hubungan dengan Epstein. Perhatian khusus mengarah kepada Mary Callahan Erdoes, CEO divisi Asset & Wealth Management JPMorgan.
Senator Demokrat Ron Wyden dari Oregon kemungkinan memimpin komite tersebut mulai Januari 2027. Sebagai anggota senior komite saat ini, Wyden sebelumnya menyampaikan rencana untuk memaksimalkan kewenangan pemanggilan dokumen dan saksi melalui mekanisme subpoena.
Meski demikian, rencana tersebut belum menjadi penyelidikan resmi. CNBC mengutip sumber yang memahami pembahasan internal komite dan meminta identitasnya dirahasiakan karena pihak Senat belum mengumumkan penyelidikan secara formal.
Persoalan utama berkaitan dengan hubungan bisnis JPMorgan dan Epstein yang berlangsung selama bertahun-tahun. Epstein mulai menjadi nasabah bank tersebut pada 1998. Dalam deposisi pada 2023, Erdoes mengaku mengetahui tuduhan bahwa Epstein membayar seseorang untuk mendatangkan gadis di bawah umur ke rumahnya sejak 2006.
Namun, JPMorgan baru mengakhiri hubungan bisnis dengan Epstein pada 2013. CEO JPMorgan Jamie Dimon juga menyampaikan dalam deposisi terpisah bahwa Erdoes memiliki kewenangan untuk menghentikan hubungan tersebut.
Sebelumnya, JPMorgan menyepakati pembayaran US$290 juta kepada para korban Epstein pada 2023 tanpa mengakui kesalahan. Bank tersebut juga menyelesaikan gugatan terpisah dari Kepulauan Virgin AS dengan pembayaran US$75 juta.
Di sisi lain, JPMorgan menyatakan penyesalannya atas hubungan dengan Epstein. Bank tersebut juga berpendapat bahwa pemerintah AS tidak membagikan informasi penting mengenai kejahatan Epstein kepada lembaga keuangan dan menegaskan tidak membantu tindak kejahatannya. Sementara itu, JPMorgan pernah menyalahkan mantan eksekutif Jes Staley atas kegagalan mengungkap aktivitas kriminal Epstein. Staley sendiri membantah mengetahui kejahatan tersebut.
Tekanan terhadap JPMorgan turut terlihat di pasar saham. Berdasarkan data Investing.com yang menjadi acuan laporan ini, saham JPM turun lebih dari 4 persen menjadi US$337,34 pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Penurunan tersebut hampir menghapus kenaikan lebih dari 3 persen yang sahamnya catat sehari sebelumnya.
Selain hubungan perbankan, nama Epstein juga pernah muncul dalam dokumen investasi perusahaan kripto Coinbase. Dokumen Departemen Kehakiman AS (DOJ) yang dirilis pada Februari 2026 mengungkap dugaan keterlibatan entitas yang terhubung dengan Epstein dalam pendanaan awal Coinbase pada 2014.
Dokumen tersebut menunjukkan pembelian 195.910 saham Series C Coinbase dengan nilai sekitar US$3,25 juta. Saat itu, Coinbase memiliki valuasi sekitar US$400 juta dan masih mengembangkan bisnis pertukaran aset digital.
Bradford Stephens, pendiri sekaligus managing partner Blockchain Capital, mengirimkan email kepada Darren Indyke, salah satu associate Epstein, pada 4 Desember 2014. Dalam email tersebut, Stephens membahas rencana penggunaan perusahaan berbentuk limited liability company (LLC) untuk menjalankan investasi senilai sekitar US$3 juta.
Transaksi tersebut memperlihatkan bagaimana Epstein memperoleh eksposur terhadap perusahaan kripto melalui perantara investasi. Namun, dokumen yang tersedia tidak menunjukkan bahwa jajaran eksekutif Coinbase bertransaksi langsung dengan Epstein atau mengetahui identitasnya sebagai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari entitas investasi tersebut.
Laporan The Washington Post juga mengungkap bahwa Epstein menjual sekitar separuh kepemilikan Coinbase pada Februari 2018 dengan nilai US$15 juta. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi keuntungan dari investasi awal ketika Coinbase masih memiliki valuasi jauh lebih rendah.
Meski demikian, jejak investasi tersebut tidak membuktikan bahwa Coinbase terlibat dalam tindak kejahatan Epstein. Transaksi pada 2014 juga memiliki konteks berbeda dari kemitraan bisnis Coinbase dan JPMorgan yang muncul bertahun-tahun kemudian.
Hubungan historis ini menjadi relevan karena JPMorgan kini semakin aktif membangun bisnis blockchain bersama Coinbase. Dengan demikian, perhatian terhadap kasus Epstein turut menghadirkan pertanyaan mengenai tata kelola, pemeriksaan nasabah, dan kepatuhan lembaga keuangan yang terlibat dalam ekosistem aset digital.
Di tengah munculnya kembali persoalan Epstein, JPMorgan terus memperluas bisnis aset digital melalui pengembangan JPM Coin. Bank tersebut semakin serius memanfaatkan teknologi blockchain untuk mendukung transaksi keuangan institusional dan pembayaran lintas jaringan.
Melalui unit blockchain Kinexys, JPMorgan mengembangkan JPM Coin sebagai token deposito yang merepresentasikan simpanan dolar AS pada bank. Berbeda dari stablecoin seperti USDT dan USDC, JPM Coin mencerminkan klaim deposito pada JPMorgan, bukan sekadar token yang penerbitnya mempertahankan nilai setara satu dolar AS.
Ekspansi JPM Coin ke jaringan Ethereum memperluas akses institusi terhadap infrastruktur pembayaran berbasis blockchain publik. Langkah tersebut juga memperkuat hubungan JPMorgan dengan ekosistem Ethereum dan pasar aset tokenisasi. Selain itu, JPMorgan dan Coinbase telah mengumumkan kemitraan strategis pada Juli 2025. Kolaborasi tersebut mencakup koneksi langsung rekening Chase dengan dompet Coinbase, pemindahan poin Chase Ultimate Rewards ke akun Coinbase, serta penggunaan kartu kredit Chase untuk mengisi saldo akun Coinbase.
Kerja sama ini memperlihatkan upaya kedua perusahaan menghubungkan layanan perbankan tradisional dengan ekosistem aset digital. Bagi Coinbase, integrasi tersebut membuka jalur akses tambahan bagi pengguna yang ingin memasuki pasar kripto. Sementara itu, JPMorgan memperluas layanan pembayaran dan konektivitas keuangan berbasis blockchain.
Namun, rencana penyelidikan terhadap hubungan JPMorgan dan Epstein perlu dipisahkan dari aktivitas bisnis blockchain perusahaan. Investasi Epstein di Coinbase pada 2014 tidak otomatis menunjukkan hubungan langsung antara Epstein dan manajemen JPMorgan dalam pengembangan JPM Coin maupun kemitraan kedua perusahaan.
Bagi pelaku pasar kripto, perkembangan ini menghadirkan dua aspek penting. Pertama, persoalan kepatuhan dan tata kelola lembaga keuangan dapat memengaruhi reputasi perusahaan besar. Kedua, ekspansi JPM Coin dan kemitraan dengan Coinbase menunjukkan bahwa bank tradisional terus memperluas perannya dalam infrastruktur aset digital.
Dengan demikian, pasar perlu mencermati perkembangan penyelidikan Senat AS sekaligus strategi JPMorgan dalam mengembangkan bisnis blockchain. Kedua hal tersebut memiliki konteks berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian penting dalam memahami posisi JPMorgan di tengah perubahan industri keuangan global.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.