Hariankripto – Industri kripto mencatat kerugian lebih dari Rp 145 triliun akibat crypto hack sepanjang 2026. Insiden tersebut mengungkap kelemahan keamanan exchange, dompet digital, dan infrastruktur blockchain.
Sementara itu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mempermudah penjahat siber menjalankan serangan. Dalam sekitar 48 jam terakhir, berbagai insiden keamanan juga melanda sedikitnya 10 negara, mulai dari kawasan Eropa hingga Amerika Serikat.
Gelombang serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan aset digital dan ketahanan sistem teknologi global.
Laporan DeFiLlama menunjukkan bahwa peretas telah mencuri sekitar Rp 159,20 triliun sepanjang 2026 hingga 3 November. Platform analitik tersebut mencatat 328 insiden keamanan dalam periode yang sama.
Dari seluruh kasus tersebut, serangan terhadap Binance menjadi insiden terbesar. Pada Oktober 2026, peretas menguras lebih dari Rp114 triliun dari exchange tersebut.
Selain Binance, sejumlah platform kripto juga menghadapi eksploitasi kontrak pintar, pencurian kunci dompet, dan gangguan infrastruktur. DeFiLlama melacak insiden peretasan di berbagai jaringan blockchain melalui basis data keamanannya.

Salah satu kasus terbaru melibatkan exchange Brasil, Mercado Bitcoin. Pada 2 November, pelaku menguras aset senilai sedikitnya Rp 725,6 miliar melalui dompet yang tersebar pada setidaknya 10 blockchain.
Sebagai langkah pengamanan, Mercado Bitcoin menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan. Perusahaan menyatakan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan kerugian bagi pelanggan maupun kebocoran data pengguna.
Kecerdasan buatan membantu peretas menjalankan serangan siber dalam waktu lebih singkat dengan upaya yang lebih sedikit. Teknologi ini memungkinkan pelaku mengotomatiskan pencarian celah keamanan, menganalisis sistem, dan menyusun strategi serangan.
Dalam laporan AI Risk and Resilience 2026, Google Cloud melalui Mandiant menjelaskan perubahan pola serangan berbasis AI. Pelaku tidak lagi hanya menggunakan chatbot untuk mencari informasi, tetapi mulai memanfaatkan AI agent untuk mengoordinasikan serangan secara otomatis.
Google Threat Intelligence Group juga menemukan penggunaan perangkat seperti Hexstrike dan Strix untuk memindai sistem, memvalidasi kerentanan, serta mengumpulkan kredensial. Kemampuan tersebut membantu peretas mempercepat beberapa tahap serangan tanpa mengandalkan pekerjaan manual secara penuh.
Selanjutnya, laporan Detecting and Countering Misuse of AI edisi September 2026 dari Anthropic menunjukkan perkembangan serupa.
Anthropic menemukan bahwa pelaku dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan jangkauan operasi siber. Bahkan, individu dengan sumber daya terbatas kini mampu menjalankan aktivitas yang sebelumnya membutuhkan tim berpengalaman.
Laporan tersebut juga mengidentifikasi penggunaan beberapa AI agent untuk melakukan pengintaian, eksploitasi, dan pencurian data dalam satu rangkaian operasi.
Ancaman ini turut menyentuh industri blockchain. Perusahaan analitik kripto Chainalysis mengungkap insiden akses ilegal terhadap sistem internalnya yang melibatkan teknik AI agent.
Perusahaan menyatakan bahwa pelaku mengakses sejumlah data pelanggan, termasuk nama dan alamat email. Namun, Chainalysis tidak menemukan indikasi bahwa serangan tersebut membocorkan kata sandi dalam bentuk teks biasa atau data investigasi.
Gelombang serangan siber kembali mengguncang sejumlah negara pada 1 hingga 3 November 2026. Berbagai insiden melanda sedikitnya 10 negara, yakni Belgia, Luksemburg, Swedia, Irlandia, Estonia, Ukraina, Rusia, Jerman, Brasil, dan Amerika Serikat.
Di Eropa, peretas menyerang sistem pendingin supermarket di Belgia, Luksemburg, Swedia, Irlandia, dan Estonia. Serangan tersebut mengganggu pengaturan suhu serta merusak persediaan makanan di sejumlah toko. Beberapa jaringan ritel besar, termasuk Carrefour, Coop, dan IKEA, turut menghadapi gangguan tersebut.
Sementara itu, Ukraina dan Rusia menghadapi serangan terhadap aplikasi peringatan darurat pada awal November. Pelaku menyebarkan informasi palsu mengenai ancaman serangan udara, bahan kimia, dan senjata nuklir. Otoritas kedua negara kemudian mengambil langkah untuk menangani gangguan tersebut.
Di Jerman, anggota parlemen dari Partai Die Linke menghadapi serangan spam bombing yang membanjiri kotak masuk email mereka. Ribuan pesan mengganggu komunikasi dan aktivitas kantor para anggota parlemen. Otoritas keamanan siber Jerman turut menangani kasus tersebut.
Adapun di Brasil, Mercado Bitcoin menghadapi serangan terhadap dompet kripto pada 2 November. Perusahaan bekerja sama dengan mitra keamanan untuk melacak aset. Dalam perkembangan terbaru, Mercado Bitcoin melaporkan bahwa pihak terkait telah memblokir aset senilai sekitar lebih dari Rp 201 Miliar.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.