Hariankripto – Binance berhasil memulihkan 98% aset yang terdampak peretasan senilai sekitar US$6,34 miliar atau setara Rp100 triliun. Insiden keamanan pada 29 Oktober 2026 ini menjadi salah satu kasus peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto. Binance menggunakan sumber daya perusahaan untuk mengganti kerugian pengguna, sementara perusahaan juga bekerja sama dengan mitra industri dan aparat penegak hukum untuk membekukan aset hasil pencurian.
Melalui laporan 29 October Binance Security Incident, Initial Findings and Response Update, Binance menjelaskan kronologi serangan, metode yang digunakan pelaku, serta langkah pemulihan sistem. Perusahaan juga menegaskan bahwa pengguna tidak perlu menanggung kerugian finansial akibat insiden tersebut.
Serangan terhadap Binance bukan sekadar aksi pencurian aset melalui celah keamanan biasa. Berdasarkan hasil investigasi awal, pelaku menjalankan operasi siber bertahap dengan memanfaatkan rekayasa sosial atau social engineering untuk mendapatkan akses ke lingkungan kerja internal perusahaan.
Investigasi Binance menemukan bahwa pelaku menggunakan berbagai metode, termasuk wawancara kerja palsu, perangkat lunak berbahaya, pencurian kredensial, dan penyalahgunaan perangkat internal. Salah satu insiden terjadi ketika seorang engineer mengunduh repositori kode berbahaya melalui proses wawancara kerja palsu. Malware tersebut kemudian membantu penyerang memperoleh akses ke perangkat dan sistem internal.
Selanjutnya, pelaku memanfaatkan perangkat engineer yang telah mereka kompromikan untuk menjangkau karyawan lain dan mengakses sistem operasional dompet digital. Pada 29 Oktober, penyerang menggunakan kredensial yang telah dicuri untuk menjalankan skrip berbahaya dan menyusup ke layanan penandatanganan transaksi dompet Binance.
Dampaknya sangat besar. Lima hot wallet Binance mengirim sekitar 233,46 juta XRP ke alamat milik penyerang. Selain itu, dompet Solana mengirim sekitar 970.500 SOL, sedangkan dompet Optimism mengirim sekitar 44,2 juta OP. Penyerang juga berhasil memindahkan sekitar 18.270 BTC.
Binance kemudian menemukan penyalahgunaan mekanisme EIP-7702 pada jaringan Ethereum. Mekanisme ini memungkinkan sebuah akun memberikan hak eksekusi tertentu kepada smart contract. Dalam insiden tersebut, penyerang menyalahgunakan mekanisme itu untuk memberikan sebagian hak eksekusi dompet Binance kepada smart contract yang mereka kendalikan.
Menurut laporan awal Binance, FBI mengaitkan serangan tersebut dengan Korea Utara. Temuan ini memperkuat perhatian industri terhadap kelompok peretas yang memiliki kemampuan menjalankan operasi siber terorganisasi dan menargetkan perusahaan aset digital.
Setelah menemukan aktivitas mencurigakan, Binance segera mengambil langkah darurat untuk menghentikan aliran aset. Perusahaan menghentikan penarikan tertentu, menghubungi mitra industri, dan menjalankan prosedur teknis untuk mencabut otorisasi transaksi yang tidak sah.
Namun, proses tersebut tidak berjalan sederhana. Penyerang telah membuat otorisasi berbahaya secara langsung di blockchain. Karena itu, penghentian layanan penarikan saja tidak cukup untuk menghentikan seluruh perpindahan aset. Binance juga harus menjalankan prosedur khusus untuk mencabut otorisasi tersebut.
Di tengah proses penanganan, Binance mencatat sekitar US$2,85 miliar aset hasil serangan telah berhasil dibekukan atau dicegat melalui kerja sama dengan mitra dan pihak terkait. Angka tersebut masih dapat berubah mengikuti proses rekonsiliasi dan fluktuasi harga pasar.
Sementara itu, Binance mengambil tanggung jawab atas kerugian finansial pengguna. Perusahaan menyatakan telah menyediakan sumber daya lebih dari 100% dari total kebutuhan pemulihan. Hingga 31 Oktober 2026, Binance melaporkan keberhasilan memulihkan 98% aset token yang terdampak. Perusahaan juga melanjutkan pembelian aset tersisa yang memiliki likuiditas lebih rendah.
Binance turut memperkuat transparansi melalui halaman Proof of Reserves. Fasilitas ini memungkinkan publik memeriksa informasi cadangan aset perusahaan sebagai salah satu bentuk keterbukaan kepada pengguna.
Langkah tersebut menjadi perhatian penting bagi trader. Sebab, keamanan sebuah bursa kripto tidak hanya bergantung pada kemampuan menyimpan aset, tetapi juga pada kesiapan perusahaan menghadapi serangan dan menjaga dana pengguna ketika insiden terjadi.
Menanggapi insiden tersebut, Changpeng Zhao atau CZ menegaskan bahwa peretasan berskala besar menunjukkan adanya kegagalan serius dalam sistem keamanan. Menurutnya, tidak ada platform yang sepenuhnya kebal terhadap serangan siber. Namun, perusahaan tidak boleh menjadikan risiko tersebut sebagai alasan untuk mengabaikan kelemahan internal.
CZ juga menyoroti pentingnya transparansi dalam mengungkap penyebab insiden. Ia menilai bahwa industri kripto dapat mengambil pelajaran dari setiap kegagalan keamanan, termasuk detail yang mungkin terasa tidak nyaman bagi perusahaan terkait.
Sejalan dengan evaluasi tersebut, Binance mulai membangun kembali sistem dompet yang terdampak dan memperbarui perangkat internal. Perusahaan juga mengganti perangkat karyawan yang terkompromi, mencabut kredensial berisiko, memperketat kontrol akses, serta meningkatkan pemantauan aktivitas mencurigakan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
A hack of this scale means serious security failures occurred. No platform is unhackable, but that cannot be an excuse. Every incident exposes weaknesses that should have been prevented. Some details are embarrassing. Public explanations also simplify what appears to have been a prolonged multi month/year attack targeting hundreds of employees and systems, with a few ultimately compromised. Sharing those details, however uncomfortable, helps the wider industry learn. As a shareholder, I expect Binance to be transparent about what went wrong, take responsibility, learn from all criticism, and make meaningful improvements. 🙏
— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) November 4, 2026
Selain itu, Binance berencana melibatkan perusahaan keamanan siber independen untuk mengaudit insiden dan memvalidasi hasil investigasi. Perusahaan juga meningkatkan investasi pada keamanan AI, perlindungan perangkat kerja, dan pemantauan perilaku sistem.
Tidak hanya berfokus pada perbaikan internal, Binance mendorong kolaborasi antarpelaku industri untuk berbagi informasi mengenai ancaman siber. Perusahaan juga merencanakan dana penelitian keamanan bersama perusahaan AI, penyedia layanan blockchain, dan firma keamanan siber.
Pada akhirnya, insiden ini memberikan pengingat penting bagi seluruh pelaku pasar kripto. Besarnya nilai aset yang tersimpan dalam bursa harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat, pengawasan internal, dan prosedur tanggap darurat yang teruji. Bagi trader pemula maupun profesional, reputasi bursa saja tidak cukup untuk menjadi pertimbangan.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.