Hariankripto – Coreum-XRPL Bridge menghadapi serangan keamanan jaringan yang menguras sekitar 200.000 XRP dari cadangan bridge. Penyerang memanfaatkan kelemahan pada software relayer tanpa mencuri satu pun private key.
Dalam waktu sekitar 97 menit, saldo bridge merosot dari sekitar 200.410 XRP menjadi hanya 493,5 XRP. Penyerang menjalankan 94 pembayaran selama rangkaian eksploitasi tersebut.
ALERT: Nearly 200,000 $XRP drained from the Coreum cross-chain bridge, exploiting a flaw in the bridge's deposit verification to create fake balances and trigger real withdrawals pic.twitter.com/qt6oJm7jC6
— CoinDesk (@CoinDesk) August 11, 2026
Menariknya, bridge mengesahkan setiap pembayaran melalui mekanismenya sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyerang tidak perlu membobol kunci penandatangan. Sebaliknya, pelaku membuat sistem percaya bahwa bridge telah menerima deposit yang sah.
Dokumentasi Coreum menjelaskan bahwa XRPL-Coreum Bridge menggunakan smart contract di jaringan Coreum, akun multisig di XRP Ledger, serta 32 relayer. Relayer tersebut menghubungkan aktivitas pada kedua jaringan dan membantu memproses perpindahan aset.
Eksploitasi Coreum Bridge Memanfaatkan Memo Deposit Palsu
Penyerang memulai serangan dengan memindahkan token Coreum versi XRPL antara dua wallet yang mereka kuasai. Selanjutnya, pelaku menambahkan memo dengan format yang menyerupai catatan deposit bridge.
Langkah tersebut mengecoh software relayer. Sistem membaca memo tersebut dan menganggap transaksi sebagai deposit yang sah. Namun, relayer tidak memastikan bahwa pembayaran benar-benar menuju alamat tujuan bridge.
Kelemahan itu menjadi inti serangan.
Token yang bridge terbitkan pada XRPL secara alami muncul dalam riwayat transaksinya. Oleh sebab itu, perpindahan token antarwallet penyerang tetap terlihat seperti aktivitas yang berkaitan dengan bridge. Pelaku lalu menambahkan memo yang menyerupai data deposit asli.
Menurut analisis on-chain, xrpl.to mengungkapkan sisi Coreum tidak memeriksa tujuan pembayaran secara memadai. Analisis tersebut juga menyebut bahwa serangan tidak memanfaatkan fitur rippling ataupun flag khusus pada XRPL.
Sebanyak 21 relayer memberikan tanda tangan pada transaksi palsu pertama. Setelah sistem mengumpulkan jumlah persetujuan yang cukup, bridge menerima informasi tersebut sebagai transaksi yang valid.
Dari titik itu, penyerang mengulangi pola yang sama. Mereka membuat transaksi semu, memberikan memo yang sesuai, lalu meminta penarikan XRP. Bridge kemudian mengeluarkan XRP asli untuk deposit yang sebenarnya tidak pernah masuk.
Mekanisme normal Coreum mengharuskan relayer memantau transaksi XRPL, mengambil informasinya, dan meneruskan bukti kepada bridge contract. Dokumentasi Coreum juga menjelaskan peran akun multisig dan relayer dalam proses tersebut.
Dengan demikian, insiden ini lebih mengarah pada kegagalan validasi data daripada kompromi terhadap sistem kriptografi XRPL.
Dana XRP Mengalir ke Ethereum dan Tornado Cash
Setelah memperoleh sekitar 200.000 XRP, penyerang mulai memindahkan hasil serangan ke jaringan lain. Analisis on-chain mengikuti aliran dana tersebut menuju THORChain.
Pelaku membagi dana menjadi 23 bagian sebelum mengonversinya ke ETH melalui infrastruktur lintas jaringan THORChain. Strategi pembagian tersebut membuat aliran transaksi tersebar ke beberapa tahapan.
Selain itu, wallet pelaku menerima 1 ETH dari penarikan Tornado Cash sebelum proses pemindahan utama berlangsung. Aktivitas itu menunjukkan adanya interaksi dengan layanan tersebut sebelum penyerang mulai memproses hasil eksploitasi.
Selanjutnya, pelaku mengirim seluruh ETH menuju Tornado Cash. Mereka menggunakan transaksi bernilai 100 ETH dan 10 ETH untuk memecah proses transfer.
Analisis on-chain lainnya dengan akun X VAL mengaitkan rangkaian tersebut dengan alamat Ethereum 0xad363E11007f98b93790ba3ABAe332402b316430.
Penggunaan THORChain memungkinkan pelaku memindahkan nilai antarjaringan. Sementara itu, interaksi dengan Tornado Cash menambah kompleksitas pelacakan aliran dana setelah aset berubah menjadi ETH. Pola tersebut membuat insiden Coreum Bridge tidak berhenti pada XRPL. Serangan akhirnya berkembang menjadi rangkaian perpindahan aset melalui blockchain lainnya.
Insiden Eksploitasi Coreum Bridge Mendorong Investigasi dari Tim Komunitas XRPL
Tim Komunitas XRPl yaitu RippleXity langsung memulai penyelidikan setelah insiden ekploitasi Coreum-Bridge muncul. Langkah tersebut bertujuan membatasi risiko tambahan selama tim menelusuri sumber kelemahan.
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan aset penyangga bagi token yang bergantung pada mekanisme Coreum-XRPL Bridge. Penurunan saldo dari sekitar 200.410 XRP menjadi hanya 493,5 XRP menciptakan selisih yang sangat besar dalam waktu kurang dari dua jam.
🚨 RippleXity Investigation: Following an internal review of the available XRPL records and supporting evidence, our findings align with the @xrplto investigation into @xora_finance.
— RippleXity (@RippleXity) August 5, 2026
The investigation began after @gimgyeongh62101 reported a 29,899.8 $XRP deposit, inaccessible… pic.twitter.com/xKpWGrMNHB
Di sisi lain, insiden tersebut memberikan pelajaran penting bagi pengembang cross-chain bridge. Sistem tidak cukup hanya memeriksa struktur memo atau format pesan transaksi.
Relayer harus memastikan alamat pengirim, alamat penerima, jumlah aset, jenis token, identitas transaksi, dan status final transaksi sebelum memberikan persetujuan. Sistem juga perlu menghubungkan setiap permintaan penarikan dengan deposit unik yang benar-benar masuk.
Dokumentasi Coreum menunjukkan bahwa arsitektur bridge memang mengandalkan relayer sebagai penghubung antara smart contract Coreum dan akun multisig XRPL. Karena itu, kualitas verifikasi pada lapisan relayer memiliki peran penting dalam keamanan seluruh proses.
Kasus Coreum Bridge sekaligus menunjukkan bahwa private key bukan satu-satunya sasaran penting dalam keamanan kripto. Kesalahan logika validasi juga dapat membuka jalan bagi kerugian besar.






















