Hariankripto – Sui Network mengambil langkah baru untuk menghadapi potensi ancaman komputer kuantum terhadap industri blockchain. Jaringan Layer 1 tersebut menyiapkan dua skema tanda tangan post-quantum yang mengikuti standar National Institute of Standards and Technology atau NIST.
Langkah tersebut muncul ketika industri mulai memberi perhatian lebih besar pada dampak komputer kuantum terhadap kriptografi modern. Komputer kuantum yang cukup kuat berpotensi mengancam sistem tanda tangan digital yang banyak blockchain gunakan saat ini.
Sui Gunakan Dua Standar Kriptografi Post-Quantum
Sui memilih ML-DSA-65 sebagai skema utama untuk akun native. Algoritma ini menggunakan pendekatan kriptografi berbasis lattice dan masuk dalam keluarga ML-DSA yang NIST tetapkan melalui FIPS 204.
Pilihan tersebut memberi Sui fondasi untuk menghadapi potensi serangan dari komputer kuantum. ML-DSA juga mendukung proses pembuatan dan verifikasi tanda tangan digital tanpa bergantung pada metode kriptografi klasik yang lebih rentan terhadap ancaman kuantum.
SUI is Becoming Quantum Ready@SuiNetwork is integrating two NIST-approved post-quantum signature schemes to mitigate quantum threats.
— BSCN (@BSCNews) August 6, 2026
The architecture integrates ML-DSA-65 for native accounts and SLH-DSA-SHA2-128s for smart contract vaults, following a July 2026 incident… pic.twitter.com/dXl79Gyx81
Namun, Sui tidak hanya mengandalkan satu metode.
Jaringan tersebut juga memilih SLH-DSA-SHA2-128s untuk melindungi smart contract vault. Algoritma tersebut berasal dari keluarga SLH-DSA yang menggunakan pendekatan berbasis fungsi hash. NIST menetapkan keluarga algoritma itu melalui FIPS 205.
Dengan demikian, Sui menggabungkan dua pendekatan matematika untuk kebutuhan yang berbeda. ML-DSA menangani autentikasi akun native, sedangkan SLH-DSA memberi lapisan keamanan tambahan untuk vault.
Strategi tersebut juga mengurangi ketergantungan terhadap satu keluarga kriptografi. Jika peneliti menemukan kelemahan pada salah satu pendekatan pada masa depan, metode lain tetap menggunakan fondasi matematika yang berbeda. Sui mengambil pendekatan konservatif setelah melihat perkembangan riset post-quantum pada Juli 2026. Model AI saat itu mampu menurunkan kekuatan efektif kandidat algoritma post-quantum HAWK dalam waktu kurang dari 60 jam.
Insiden tersebut tidak membobol ML-DSA-65. Namun, hasil penelitian itu menunjukkan bahwa perkembangan AI dapat mempercepat analisis terhadap sistem kriptografi baru. Karena alasan tersebut, Sui memilih ML-DSA-65 dengan tingkat keamanan lebih tinggi daripada parameter Level 1 yang lebih ringan. Tim ingin menyediakan margin keamanan tambahan ketika teknologi analisis kriptografi terus berkembang.
Meski menawarkan keamanan lebih tinggi, algoritma post-quantum membawa tantangan tersendiri. Public key dan tanda tangan digitalnya memiliki ukuran lebih besar daripada Ed25519 yang banyak sistem gunakan saat ini.
Pengguna Bisa Tingkatkan Keamanan Tanpa Memindahkan SUI
Perubahan algoritma hanya menyelesaikan satu bagian dari masalah. Sui masih harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih praktis. Bagaimana jutaan pengguna dapat beralih menuju sistem baru tanpa membuat wallet dan memindahkan seluruh aset?
Sui menjawab persoalan tersebut melalui deterministic seed dan address aliases.
Menurut penjelasan Sui, private key ML-DSA-65 menggunakan seed berukuran 32 byte. Ukuran tersebut sama dengan seed yang wallet simpan sekarang.
Selain itu, pengguna dapat menghasilkan kunci quantum-safe melalui recovery phrase yang sudah mereka miliki. Wallet hanya perlu menggunakan jalur derivasi baru yang sesuai dengan sistem post-quantum.
Pendekatan tersebut membuat proses backup dan pemulihan tetap terasa familiar. Pengguna tidak perlu mengelola recovery phrase tambahan hanya untuk menggunakan sistem keamanan baru.
Selanjutnya, fitur address aliases memainkan peran penting dalam proses migrasi.
Sui sudah menyediakan address aliases pada jaringannya. Fitur itu memungkinkan akun memperbarui authorization key tanpa mengganti alamat publik. Artinya, pengguna dapat beralih ke kunci post-quantum sambil mempertahankan alamat wallet yang sama. Token SUI dan aset lain juga tetap berada pada akun tersebut.
Dengan cara ini, pengguna tidak perlu mengirim seluruh aset menuju wallet baru. Mereka juga tidak perlu memperbarui alamat pada berbagai aplikasi dan layanan yang sudah terhubung dengan akun lama. Sui menilai masalah migrasi sebagai salah satu tantangan terbesar dalam perubahan sistem kriptografi. Algoritma baru tidak banyak membantu jika pengguna harus melewati proses perpindahan aset yang rumit.
Dalam blognya, Sui menekankan bahwa tantangan terbesar migrasi kriptografi bukan terletak pada algoritma baru. Tantangan muncul karena banyak pengguna sudah menggunakan sistem lama. Karena itu, Sui memilih model upgrade yang bersifat opt-in dan additive. Jaringan tidak memaksa seluruh pengguna mengganti sistem secara bersamaan.
Pengguna dapat mengaktifkan perlindungan quantum-safe ketika fitur tersebut tersedia. Pada saat yang sama, jaringan tetap mempertahankan kompatibilitas dengan akun yang belum melakukan perubahan.
Era Kuantum Bisa Ubah Persaingan Blockchain
Langkah Sui juga menarik perhatian sejumlah tokoh dalam ekosistem kripto.
Adeniyi Abiodun, Co-founder dan Chief Product Officer Mysten Labs, menyoroti kemampuan Sui menghadirkan akun serta investment vault tahan kuantum tanpa meminta pengguna mengganti alamat.
.@SuiNetwork the safest L1. Quantum resistant accounts and investment vaults with no need to change addresses. https://t.co/vmII5VHKz5
— Adeniyi.sui (@EmanAbio) August 6, 2026
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Sui tidak hanya mengejar peningkatan keamanan pada tingkat teknis. Tim juga ingin menjaga pengalaman pengguna selama proses migrasi berlangsung.
Sementara itu, influencer kripto DeFi Rocketeer melihat perkembangan tersebut sebagai sinyal perubahan persaingan di industri blockchain.
Menurutnya, perlombaan berikutnya mungkin tidak lagi hanya membahas transaction per second atau TPS. Blockchain juga harus membuktikan kemampuan mereka menghadapi era komputasi kuantum.
Rocketeer turut menyoroti cara Sui menangani perpindahan menuju quantum-safe key. Pengguna tetap dapat memanfaatkan recovery phrase lama, mempertahankan alamat yang sama, dan menyimpan dana pada akun yang sama.
Menurutnya, setiap blockchain besar pada akhirnya harus menghadapi masalah serupa.
Pandangan tersebut masuk akal jika melihat perkembangan industri. Selama ini, berbagai jaringan Layer 1 bersaing melalui kecepatan transaksi, biaya rendah, skalabilitas, likuiditas, dan pengalaman pengguna.
Namun, perkembangan komputer kuantum dapat menambahkan faktor baru dalam persaingan tersebut. Blockchain perlu menunjukkan bahwa sistem kriptografinya mampu beradaptasi sebelum ancaman kuantum mencapai tingkat praktis.
Sui sendiri tidak langsung mengganti seluruh sistem jaringan. Tim memilih proses implementasi secara bertahap.
Quantum-safe vaults menargetkan Mainnet pada 2026. Sementara itu, akun native dengan ML-DSA-65 menargetkan Testnet sebelum akhir 2026. Tahap berikutnya akan membawa autentikasi post-quantum menuju akun native di Mainnet.
Dengan strategi tersebut, Sui mencoba menggabungkan kesiapan teknologi dengan proses migrasi yang lebih sederhana.
Pada akhirnya, tantangan era kuantum tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki algoritma paling kuat. Blockchain juga harus menemukan cara untuk membawa jutaan akun lama menuju standar keamanan baru.

























