Hariankripto.id – Persaingan Ethereum VS XRP kembali mencuri perhatian komunitas kripto Indonesia. John Deaton, pengacara pro-kripto akhirnya buka suara tentang persaingan yang terjadi di antara kedua komunitas koin digital terbesar ini.
Dalam postingannya, Deaton mengungkap bagaimana persaingan Ethereum VS XRP telah menciptakan perpecahan yang cukup tajam di kalangan investor dan trader kripto.
Dalam postingan di media sosial X, Deaton mengakui kalau memang ada perpecahan atau yang sering disebut “fanatisme” di komunitas kripto. Menurutnya, orang-orang yang tidak suka Ethereum biasanya sangat menentang komunitas lain, begitu juga sebaliknya dengan mereka yang tidak suka XRP.
John Deaton Pilih Netral dalam Persaingan Ethereum VS XRP
Menariknya dari pernyataan John Deaton, dia memilih untuk tidak memihak dalam persaingan Ethereum XRP ini. John Deaton mengatakan bahwa pasar lah yang akan menentukan pemenang, bukan pemerintah atau regulator.
John Deaton merupakan pengacara yang sempat membela komunitas XRP dalam kasus SEC VS XRP. Deaton menyebut kalau Ethereum juga ikut diuntungkan dari disahkannya undang-undang GENIUS Act yang mengatur mata uang digital stabil.
“Banyak orang bilang kalau Circle dengan USDC dan Ripple dengan RLUSD bakal jadi pemenang jelas dari undang-undang ini. Tapi sebenarnya Ethereum juga termasuk salah satunya,” kata Deaton. Deaton menyebutkan bahwa sebagian besar perdagangan RLUSD milik Ripple justru terjadi di jaringan Ethereum, bukan di XRP Ledger.
Data Kapitalisasi Pasar: Ethereum Masih Unggul dari XRP
Bicara soal angka, persaingan Ethereum VS XRP memang masih timpang. Saat ini, Ethereum masih kokoh di posisi kedua dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar 443 miliar dollar. Sementara XRP, meski terus mengejar, masih tertinggal cukup jauh di angka 180 miliar dollar.
Keduanya kini bersaing ketat untuk mempertahankan posisi sebagai koin digital terbesar kedua dan ketiga setelah Bitcoin.
Pernyataan netral Deaton soal persaingan Ethereum VS XRP ini justru menuai kritik dari sebagian komunitas XRP yang merasa tidak dapat dukungan.
Tony Edward, salah satu tokoh terkenal di komunitas kripto, mengonfirmasikan bahwa fanatisme dalam persaingan Ethereum VS XRP memang sedang mencapai puncaknya. “XRP sedang menarik banyak likuiditas dan membuat para pendukung fanatik Bitcoin serta Ethereum mulai gelisah,” ungkap Edward.
As stated recently, the tribalism is heating up. Everyone trying to grab retail liquidity. $XRP is grabbing a lot of liquidity and many BTC & ETH maxis are having mental breakdowns. https://t.co/H9nFZb5Vsg
— Tony Edward (Thinking Crypto Podcast) (@ThinkingCrypto1) August 4, 2025
Situasi ini semakin panas ketika Robert Breedlove, seorang maksimalis Bitcoin, memberikan komentar yang cukup kontroversial tentang XRP, yang kemudian memicu respons dari berbagai pihak.
Tanggapan Berbeda Dari Komunitas Kripto dan Analisis Kripto
Menariknya, persaingan Ethereum VS XRP muncul bersamaan dengan rekomendasi USA Today yang menyebut XRP sebagai investasi kripto terbaik untuk dana 500 dollar. Menanggapi hal ini, John Deaton berkomentar bahwa pasar kripto kemungkinan sedang memasuki fase bullish.
Namun tidak semua analis setuju dengan pandangan optimis tersebut. Ali Martinez, seorang analis kripto terkemuka, justru melihat rekomendasi media mainstream ini sebagai sinyal bahwa pasar mungkin sudah mendekati puncaknya.
Di sisi lain, Laura Shin, komentator kripto yang cukup vocal, secara sinis mempertanyakan kredibilitas jurnalis USA Today yang memberikan rekomendasi investasi kripto kepada lebih dari 5 juta pengikutnya tanpa pemahaman mendalam tentang aset digital.
Melihat dinamika persaingan Ethereum VS XRP , pandangan John Deaton untuk menyerahkan keputusan pada mekanisme pasar tampaknya paling realistis. Saat ini, Ethereum masih memimpin jauh dengan XRP dalam hal besarnya kapitalisasi pasar dan persaingan Ethereum vs XRP masih berlanjut.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan nasihat investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.























