Hariankripto – J.P. Morgan Asset Management mengambil langkah baru dalam riset jangka panjangnya. Untuk pertama kalinya, lengan investasi JPMorgan Chase ini memasukkan Bitcoin ke dalam proyeksi imbal hasil jangka panjang. Hasilnya cukup mencolok.
JUST IN: JPMorgan sees Bitcoin outperforming U.S. stocks and gold over next decade. https://t.co/2BUKqIuU6a
— Whale Insider (@WhaleInsider) October 20, 2026
Proyeksi Bitcoin JPMorgan menunjukkan aset kripto terbesar ini mampu mengungguli saham AS berkapitalisasi besar, emas, hingga REIT AS dalam 10 sampai 15 tahun ke depan.
Dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions, JPMorgan mematok imbal hasil tahunan majemuk Bitcoin sebesar 10%. Angka ini melampaui saham AS berkapitalisasi besar di level 7,5%. Bitcoin juga mengalahkan REIT AS di 8,2% dan emas di 5,5%.
| Aset | Proyeksi imbal hasil tahunan majemuk |
|---|---|
| Bitcoin | 10% |
| REIT AS | 8,2% |
| Saham AS berkapitalisasi besar | 7,5% |
| Emas | 5,5% |
Selain itu, laporan tersebut memuat estimasi imbal hasil aritmetika tahunan Bitcoin sebesar 20,9%. Pemula perlu memahami perbedaan kedua angka ini. Imbal hasil aritmetika menghitung rata-rata sederhana per tahun. Sementara itu, imbal hasil majemuk mencerminkan pertumbuhan modal yang sesungguhnya setelah memperhitungkan naik-turunnya harga.
Selisih lebar antara 20,9% dan 10% muncul karena volatilitas. JPMorgan memperkirakan volatilitas tahunan Bitcoin mencapai 55%. Dengan kata lain, investor harus siap menghadapi ayunan harga yang tajam.
Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, ikut menyoroti temuan ini. Menurutnya, angka-angka tersebut menempatkan Bitcoin sebagai aset dengan imbal hasil tertinggi dalam satu dekade mendatang.
Proyeksi untuk Bitcoin tidak berdiri sendiri. JPMorgan juga melihat prospek pertumbuhan negara maju terbaik dalam 15 tahun terakhir. Gelombang investasi global yang berpusat pada kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utamanya. JPMorgan memperkirakan tren ini berlanjut hingga 2040.
Menurut JPMorgan, lonjakan investasi itu mendongkrak total factor productivity sebesar 50% menjadi 120 basis poin. Karena itu, bank ini menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB riil AS ke 2,1%. Proyeksi pertumbuhan nominal negara maju juga naik ke 4,2%.
JPMorgan Sees Bitcoin Outperforming U.S. Stocks and Gold Over Next Decade J.P. Morgan Asset Management, the investment arm of U.S. banking giant JPMorgan Chase, included Bitcoin in its long-term return forecasts for the first time, projecting a 10% compound annual return over the next 10–15 years, ahead of U.S. large-cap stocks (7.5%), gold (5.5%) and U.S. REITs (8.2%). Its 2027 Long-Term Capital Market Assumptions also estimated Bitcoin’s arithmetic annual return at 20.9%, with 55% annualized volatility. Bitwise CIO @Matt_Hougan said the figures positioned Bitcoin as the highest-returning asset over the next decade.
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) October 20, 2026
JPMorgan menilai perpaduan antara pertumbuhan PDB dan inflasi kini mencapai kondisi paling ideal sejak pandemi. Bagi pelaku pasar kripto, latar makro seperti ini biasanya mendukung minat terhadap aset berisiko.
Di luar Bitcoin, JPMorgan juga memberi perhatian besar pada aset alternatif. Bank ini menaikkan proyeksi hedge fund berbasis diversifikasi sebesar 140 basis poin. Dua alasan mendasarinya, yaitu tren alpha yang stabil dan suku bunga yang lebih tinggi. Meski begitu, JPMorgan mengingatkan bahwa pemilihan manajer investasi memegang peran penting.
Aset riil juga menunjukkan ketahanan di tengah gejolak inflasi. Sektor transportasi global mencatat proyeksi imbal hasil 8,1%. Properti inti global menyusul di 7,9%, sedangkan infrastruktur global berada di 7,1%.
Untuk portofolio seimbang saham-obligasi global, JPMorgan menaikkan proyeksinya sebesar 60 basis poin menjadi 7,0%. Namun, korelasi saham dan obligasi yang makin tinggi menuntut diversifikasi tambahan. Menurut JPMorgan, alokasi 30% ke aset alternatif bisa mengangkat imbal hasil hingga 7,5%. Strategi ini juga mampu meningkatkan rasio Sharpe sebesar 21% dibanding portofolio seimbang biasa. JPMorgan juga menyarankan investor melakukan diversifikasi lintas tema, bukan hanya lintas aset.
Pada akhirnya, prospek jangka panjang Bitcoin tetap bergantung pada tiga faktor, yaitu adopsi, kelangkaan pasokan, dan permintaan institusi. Trader profesional bisa memanfaatkan data ini untuk menimbang porsi Bitcoin dalam portofolio. Sementara itu, investor pemula sebaiknya mengingat angka volatilitas 55% sebelum mengambil keputusan.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.