Hariankripto – Bitcoin kembali menjadi pusat perhatian pasar setelah mencatat kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir ini. Aset kripto terbesar dunia itu berhasil melewati level $80.000 untuk pertama kalinya setelah periode bear market mulai bulan Januari tahun 2026 ini, sekaligus mengubah suasana pasar yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran menjadi lebih optimistis.
Dalam waktu sekitar 20 hari, Bitcoin bergerak dari titik rendah $62.535 menuju area $82.300. Pergerakan tersebut menambah nilai kapitalisasi pasar Bitcoin hingga sekitar $390 miliar.
Kenaikan besar ini juga membawa dampak pada aktivitas perdagangan derivatif. Data pasar mencatat likuidasi posisi leverage mencapai $11,4 miliar. Sekitar setengah dari jumlah tersebut muncul dalam periode lima hari pada 17 hingga 21 Agustus. Kondisi ini menciptakan gelombang likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah pasar kripto.
BREAKING: Bitcoin just gave its highest daily close in nearly 4 months.
— Bull Theory (@BullTheoryio) September 4, 2026
Bitcoin surged nearly $20,000 in the last 20 days, from a low of $62,535 to over $82,300.
That move added $390 billion to Bitcoin's market cap and liquidated $11.4 billion worth of leveraged positions.… pic.twitter.com/EEn0i9nHFP
Selain faktor teknikal, pasar melihat kondisi ekonomi Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu optimisme. Data ISM Services PMI mencatat angka 55,4, lebih tinggi dari perkiraan 54,3. Angka tersebut menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika masih berkembang dan memberi sentimen positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Pergerakan Bitcoin kali ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, sejumlah analis teknikal melihat pola konsolidasi yang menunjukkan peluang kenaikan. Bitcoin sempat membentuk area tekanan harga setelah bergerak dari kisaran $60.000 menuju lebih dari $80.000.
Dari sisi grafik, Bitcoin menunjukkan perubahan momentum yang menarik perhatian para pedagang. Grafik empat jam Bitcoin memperlihatkan penyempitan Bollinger Bands setelah harga bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut menggambarkan pasar yang mengalami tekanan sebelum menentukan arah berikutnya. Area $79.500 menjadi batas penting yang sebelumnya menjadi hambatan, sedangkan level $76.700 menjadi wilayah pertahanan harga.
Ketika Bitcoin berhasil melewati area hambatan tersebut, pasar melihat peluang kenaikan lebih lanjut. Banyak pedagang menganggap pola ini sebagai fase pengumpulan tenaga sebelum pergerakan besar.
Namun, tidak semua pelaku pasar memiliki pandangan yang sama. Pegiat kripto Alex Mason menilai Bitcoin belum menyelesaikan seluruh siklus penurunannya. Menurutnya, pola pasar bearish sebelumnya menunjukkan Bitcoin membutuhkan waktu panjang sebelum mencapai titik dasar terakhir.
Alex Mason melihat area rata-rata pergerakan 350 hari sebagai indikator penting. Saat ini harga Bitcoin berada sekitar $78.000, sedangkan indikator tersebut berada dekat $47.000. Pandangan ini membuat sebagian investor tetap berhati-hati terhadap kemungkinan koreksi besar.
Di sisi lain, Jesse Myers, pencipta kerangka valuasi Bitcoin yang digunakan oleh sejumlah investor besar, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai Bitcoin mungkin baru memasuki fase awal pasar bullish yang dapat berlangsung dua hingga tiga tahun.
Menurut Myers, Bitcoin telah bergerak melewati rata-rata biaya kepemilikan kelompok pemegang jangka pendek atau Short-Term Holder Cost Basis. Indikator tersebut sering digunakan untuk melihat perubahan sentimen investor.
Bitcoin may have just begun a 2-3 year bull market. Here's why, and what that could mean for BTC price.
— Jesse Myers (@Croesus_BTC) September 3, 2026
1. BTC has decisively popped above Short-Term Holder cost basis (pink line)
Three weeks ago (at $64k), I said we were at the bottom. I noted that a decisive jump above the… https://t.co/Rd0WIxEsS6 pic.twitter.com/LTLzCOTzdr
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan pola pasar 2022 menuju 2023. Pada periode tersebut, Bitcoin membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan setelah mencapai titik rendah sebelum harga melewati biaya rata-rata pemegang jangka pendek. Setelah fase tersebut, Bitcoin memasuki periode kenaikan panjang.
Myers melihat pola serupa muncul pada 2026. Menurutnya, pasar bearish mulai kehilangan tekanan karena jumlah penjual agresif semakin berkurang. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi investor baru untuk kembali masuk ketika melihat perubahan tren.
Ia juga melihat peristiwa halving Bitcoin pada 2028 sebagai faktor penting berikutnya. Halving akan mengurangi jumlah Bitcoin baru yang masuk ke pasar dan sering menjadi perhatian investor karena menciptakan narasi kelangkaan aset.
Kenaikan Bitcoin juga membawa pengaruh terhadap aset kripto lain. XRP naik sekitar 6,6 persen menuju $1,46. Zcash mencatat kenaikan 21,5 persen hingga $1.001, sementara BNB bergerak naik 4,3 persen menuju $721,52 yang semua Altcoin tersebut kenaikannya terjadi dalam 24 jam.
Ethereum juga mencatat penguatan sekitar 5,3 persen dengan kapitalisasi pasar melewati $309 miliar. Solana naik 3,5 persen menuju $104,21, sedangkan Dogecoin mengalami kenaikan sekitar 3,4 persen.
Selain pergerakan harga, pasar mulai memperhatikan beberapa katalis ekonomi berikutnya. Data inflasi Amerika Serikat pada 11 September menjadi perhatian utama investor karena angka tersebut dapat memengaruhi kebijakan ekonomi dan arah aset berisiko.
Sejumlah analis melihat reaksi pasar terhadap data inflasi tidak hanya bergantung pada hasil akhirnya. Mereka menilai posisi harga Bitcoin sebelum rilis data juga akan menentukan respons investor.
Dengan kondisi saat ini, Bitcoin berada di persimpangan penting. Sebagian investor melihat kenaikan menuju $80.000 sebagai awal siklus bullish baru, sementara kelompok lain masih menunggu koreksi sebelum mengambil keputusan. Pergerakan berikutnya akan bergantung pada kekuatan permintaan, kondisi ekonomi global, dan perubahan psikologi pasar.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.