Hariankripto – Pasar kripto Amerika Serikat kembali menghadapi babak penting setelah Senat gagal melanjutkan pembahasan Clarity Act, sebuah rancangan regulasi yang bertujuan memberikan kejelasan aturan bagi industri aset digital.
Kegagalan tersebut sempat mengecewakan sejumlah pelaku industri karena banyak pihak berharap undang-undang tersebut dapat menciptakan kepastian hukum bagi perusahaan kripto, investor, serta pengembang teknologi blockchain.
Namun, hambatan di parlemen tidak menghentikan langkah regulator Amerika Serikat. Setelah keputusan Senat tersebut, sejumlah lembaga seperti Securities and Exchange Commission (SEC), Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dan Departemen Keuangan AS tetap berencana menyusun aturan kripto menggunakan kewenangan yang sudah tersedia dalam regulasi saat ini.
BREAKING: 🇺🇸 CFTC Chair Michael Selig says agency will create its own crypto rules after the Senate failed to pass the CLARITY Act. pic.twitter.com/VXKHJDZ6GV
— Bull Theory (@BullTheoryio) September 16, 2026
Perubahan arah ini menunjukkan bahwa perkembangan aturan aset digital di Amerika Serikat kemungkinan akan bergerak melalui tindakan regulator, bukan hanya melalui proses legislasi di Kongres.
Pemungutan suara Senat AS yang gagal membawa Clarity Act ke tahap berikutnya menjadi pukulan bagi sebagian pelaku industri kripto. Rancangan aturan tersebut sebelumnya menjadi perhatian karena dianggap mampu menjelaskan pembagian kewenangan antara regulator serta memberikan kerangka hukum yang lebih jelas untuk aset digital.
Melalui akun X miliknya, Ketua CFTC Michael S. Selig menyampaikan bahwa hasil pemungutan suara tersebut mengecewakan. Ia menilai masyarakat Amerika membutuhkan kejelasan regulasi, kepastian hukum, serta perlindungan konsumen dalam pasar aset kripto.
Meski demikian, Selig menegaskan bahwa CFTC tetap siap menggunakan kewenangan yang sudah dimiliki untuk menghadapi perkembangan baru dalam industri keuangan digital. Menurutnya, Amerika Serikat tetap memiliki ambisi menjadi pusat perkembangan industri kripto global.
Sementara itu, Ketua SEC Paul Atkins juga menunjukkan kesiapan lembaganya untuk menangani berbagai isu dalam sektor aset digital. Fokus utama regulator mencakup struktur pasar kripto, keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi), sistem penyimpanan mandiri aset digital atau self-custody, serta perkembangan aset berbasis token.
🇺🇸 SEC CHAIR PAUL ATKINS CONFIRMS NEW RULES ARE COMING, EVEN AFTER CLARITY FAILURE:
— 𝓐𝓶𝓮𝓵𝓲𝓮 (@_Crypto_Barbie) September 16, 2026
„WE ARE READY WILLING ENABLE COME OUT WITH RULES YOU KNOW THAT ADRESS SAME ISSUES IN CLARITY!“ 🥳 pic.twitter.com/UZg8xFtLdD
Dengan kondisi tersebut, pasar melihat adanya perubahan strategi regulasi. Jika sebelumnya industri berharap pada aturan baru dari Kongres, kini perhatian mulai bergeser kepada kebijakan langsung dari lembaga regulator.
Setelah kegagalan Clarity Act, sejumlah analis memperkirakan SEC dan CFTC akan mempercepat proses pembuatan aturan menggunakan regulasi yang sudah berlaku.
Bernstein, salah satu perusahaan analisis keuangan, memperkirakan regulator akan mengambil langkah yang agresif dan cepat untuk memberikan kepastian baru bagi pasar aset digital.
Beberapa area yang menjadi perhatian regulator meliputi aturan pendanaan proyek kripto, perlindungan bagi pengembang DeFi dan teknologi self-custody, hingga aturan mengenai aset dunia nyata yang telah mengalami tokenisasi.
Selain itu, pasar juga menunggu perkembangan terkait produk keuangan berbasis aset digital. Regulasi yang lebih jelas dapat membuka peluang bagi produk seperti perpetual futures berbasis aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Di sisi lain, analis menilai regulasi dari lembaga pemerintah memiliki batasan tertentu dibandingkan undang-undang yang disahkan Kongres. Aturan regulator dapat memberikan kepastian dalam jangka pendek, tetapi perubahan kebijakan pada masa depan tetap menjadi risiko apabila tidak memiliki dasar hukum yang lebih kuat.
Di tengah kegagalan Clarity Act, sejumlah tokoh industri tetap melihat perkembangan positif bagi pasar kripto.
Founder Strategy Michael Saylor menyampaikan bahwa kemajuan regulasi tidak harus menunggu keputusan Kongres. Ia memperkirakan SEC, CFTC, dan Departemen Keuangan AS tetap dapat mempercepat aturan melalui kewenangan yang sudah tersedia.
Saylor juga melihat peluang bagi institusi keuangan tradisional untuk memperluas layanan terkait Bitcoin. Menurutnya, bank dapat meningkatkan layanan penyimpanan Bitcoin serta menyediakan pinjaman dengan aset digital sebagai jaminan.
Selain itu, ia memperkirakan arus modal ke sektor Bitcoin dan kredit digital dapat meningkat seiring berkembangnya infrastruktur regulasi.
Pandangan serupa datang dari CEO Ripple Brad Garlinghouse yang menyampaikan kekecewaan terhadap kegagalan Clarity Act setelah proses pembahasan yang berlangsung cukup lama. Namun, ia tetap menilai industri membutuhkan langkah lanjutan untuk menciptakan aturan yang lebih jelas.
Sementara itu, perkembangan stablecoin juga menjadi perhatian setelah hadirnya GENIUS Act yang mendukung adopsi stablecoin dalam sistem keuangan digital.
Bagi trader dan investor kripto, kondisi ini menunjukkan bahwa regulasi tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar. Kepastian aturan dapat meningkatkan kepercayaan institusi, tetapi proses menuju regulasi yang matang masih membutuhkan waktu.
Pergerakan regulasi kripto Amerika Serikat kini memasuki fase baru. Walaupun Clarity Act belum berhasil melewati Senat, SEC dan CFTC tetap memiliki ruang untuk membangun kerangka aturan melalui kewenangan yang tersedia.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.