Hariankripto – Ancaman komputasi kuantum mulai mendapat perhatian lebih besar dari industri kripto. Perkembangan teknologi ini memang belum mampu meruntuhkan keamanan blockchain saat ini. Namun, regulator dan peneliti mulai meminta industri menyiapkan sistem keamanan sejak dini.
European Banking Authority atau EBA, European Insurance and Occupational Pensions Authority atau EIOPA, serta European Securities and Markets Authority atau ESMA memasukkan perkembangan komputasi kuantum sebagai salah satu risiko teknologi yang perlu mendapat perhatian. Ketiga regulator tersebut meminta pelaku pasar memperkuat kesiapan menghadapi perkembangan teknologi baru.
The QMS white paper is now live.
— QMS Network (@QMSNetwork) September 24, 2026
It outlines the network we’re building: a layer 1 for the post-quantum era, featuring proof-of-useful-work consensus, no public-key signatures in block production, a separate post-quantum finality layer, EVM-compatible execution, and a path for… pic.twitter.com/DNu7C95M49
Di tengah perhatian tersebut, QMS Network memperkenalkan rancangan blockchain Layer 1 untuk era post-quantum. Proyek ini menawarkan pendekatan yang berbeda melalui Proof-of-Useful-Work, produksi blok tanpa bergantung pada tanda tangan public-key, lapisan finalitas terpisah, serta lingkungan eksekusi yang kompatibel dengan Ethereum.
Perkembangan ini menarik perhatian karena industri blockchain mulai memikirkan keamanan jangka panjang. Selain itu, QMS mencoba melihat komputer kuantum bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai sumber daya komputasi untuk jaringan.
Banyak blockchain menggunakan kriptografi elliptic curve untuk menjaga keamanan aset dan transaksi. Sistem tersebut memungkinkan pengguna membuktikan kepemilikan aset melalui private key tanpa perlu mengungkapkannya kepada pihak lain.
Namun, komputer kuantum yang cukup kuat secara teori dapat mengubah situasi tersebut. Algoritma Shor dapat menyelesaikan persoalan matematika tertentu yang menjadi dasar keamanan elliptic curve jauh lebih efisien daripada komputer konvensional.
Riset Google pada 2026 memperkirakan kebutuhan sumber daya untuk memecahkan Elliptic Curve Discrete Logarithm Problem 256-bit jauh lebih rendah daripada estimasi sebelumnya. Peneliti memperkirakan penurunan kebutuhan physical qubit sekitar 20 kali dibandingkan perkiraan terdahulu.
Meski begitu, ancaman tersebut belum berarti seseorang dapat membobol Bitcoin dengan komputer kuantum sekarang. Mesin kuantum dengan kemampuan dan skala yang dibutuhkan untuk skenario tersebut belum tersedia. Karena itu, persoalan utama bagi industri saat ini terletak pada persiapan migrasi keamanan.
Google juga mendorong komunitas cryptocurrency untuk mulai beralih menuju post-quantum cryptography atau PQC sebelum komputer kuantum mencapai kemampuan yang relevan secara kriptografis.
QMS Network merupakan blockchain Layer 1 yang sejak awal mengarahkan desainnya untuk menghadapi era post-quantum. Menurut dokumentasi proyek, QMS merancang lapisan konsensus agar memiliki ketahanan terhadap ancaman kuantum. Jaringan ini juga menyiapkan arsitektur yang dapat mengakomodasi hardware kuantum pada jaringan miner di masa depan.
Salah satu konsep utama QMS terletak pada mekanisme Proof-of-Useful-Work atau PoUW. Proof-of-Work tradisional meminta miner menjalankan komputasi untuk menjaga konsensus dan keamanan jaringan. Sementara itu, QMS ingin mengarahkan sebagian aktivitas komputasi tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang memiliki kegunaan bagi klien.
QMS menyebut beberapa contoh seperti optimasi logistik, portfolio optimization, dan vehicle routing. Klien dapat mengirim persoalan komputasi ke jaringan. Selanjutnya, miner bersaing menghasilkan solusi dan memperoleh kompensasi berdasarkan mekanisme jaringan.
Selain itu, QMS menyatakan bahwa proses produksi blok melalui PoUW tidak bergantung pada public-key signature. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan konsensus terhadap salah satu komponen kriptografi yang dapat menghadapi risiko pada era komputer kuantum. Namun, perlindungan tersebut secara khusus berkaitan dengan produksi blok. Keamanan akun dan finalitas tetap membutuhkan mekanisme tersendiri.
QMS juga merancang kompatibilitas dengan lingkungan Ethereum. Karena itu, developer nantinya dapat menggunakan pola pengembangan smart contract dan perangkat yang sudah familier dalam ekosistem EVM.
Menariknya, jaringan tidak harus menunggu komputer kuantum untuk mulai beroperasi. QMS merancang miner klasik sebagai fondasi awal. Setelah teknologi berkembang, jaringan dapat mengintegrasikan sistem hybrid dan kemampuan komputasi kuantum.
QMS tidak hanya menawarkan perubahan pada sisi keamanan. Proyek ini juga mencoba mengubah hubungan antara mining, biaya keamanan, dan permintaan komputasi.
Blockchain Proof-of-Work biasanya memberi miner pendapatan melalui block reward dan transaction fee. Sebaliknya, QMS merancang sumber pendapatan tambahan melalui pembayaran klien yang membutuhkan hasil komputasi.
Model tersebut menciptakan hubungan ekonomi yang berbeda.
Klien membayar untuk memperoleh hasil komputasi. Kemudian, miner mendapatkan peluang pendapatan tambahan dari pekerjaan tersebut. Jika permintaan meningkat, insentif ekonomi dapat menarik lebih banyak sumber daya komputasi ke jaringan.
Pada saat yang sama, QMS berpendapat bahwa pembayaran klien dapat membantu membiayai keamanan jaringan. Dengan model tersebut, jaringan tidak harus hanya mengandalkan penerbitan token dan biaya transaksi untuk memberi insentif kepada miner. Namun, efektivitas model ini tetap membutuhkan pembuktian melalui implementasi jaringan, aktivitas pengguna, serta permintaan nyata terhadap layanan komputasinya.
Konsep ini juga menunjukkan perubahan cara industri melihat komputer kuantum. Teknologi tersebut memang dapat menciptakan ancaman terhadap sistem kriptografi lama. Namun, jaringan blockchain juga dapat memanfaatkan kemampuan komputasi yang lebih kuat untuk menjalankan pekerjaan produktif.
Untuk trader dan pegiat kripto, perkembangan QMS Network menunjukkan bahwa narasi post-quantum mulai bergerak dari diskusi teoritis menuju pengembangan infrastruktur. Meski demikian, QMS masih berada pada tahap pre-testnet v0.1 menurut situs resminya. Karena itu, pembaca perlu membedakan rancangan teknis proyek dengan kemampuan yang sudah terbukti pada jaringan produksi.
Perhatian regulator Eropa dan riset terbaru mengenai kriptografi kuantum memperkuat alasan industri untuk mempersiapkan transisi lebih awal. Namun, ancaman komputer kuantum terhadap blockchain belum menjadi serangan praktis saat ini. Tantangan sebenarnya terletak pada kemampuan proyek blockchain untuk membangun, menguji, dan menerapkan perlindungan sebelum teknologi kuantum mencapai skala yang dapat mengancam sistem kriptografi modern.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.