Hariankripto – Sektor kripto berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menghadapi tantangan keamanan. Beberapa proyek besar seperti Fetch.ai, NuNet, SingularityNET, dan World Mobile Chain mengalami insiden yang melibatkan pencurian aset serta pembuatan token tanpa izin.
https://t.co/h6YHCxlwop & NuNet Exploit: ~$2M Crypto Loss Reported
— Crypto Patel (@CryptoPatel) September 20, 2026
A security incident has linked the same attack cluster to both #FetchAI and #NuNet.
🔴 https://t.co/h6YHCxlwop (ethereum:0xaea46a60368a7bd060eec7df8cba43b7ef41ad85): ~8.7M FET drained, worth ~$1.54M
🔴 NuNet… pic.twitter.com/1QmMYTt6b8
Serangan tersebut memanfaatkan celah keamanan pada kunci penandatangan transaksi atau signing key. Akibatnya, pelaku dapat mengakses fungsi penting dalam sistem dan mengubah jumlah token yang beredar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi trader dan pegiat kripto bahwa inovasi teknologi harus berjalan bersama dengan sistem keamanan yang kuat. Proyek dengan konsep menarik tetap memiliki risiko apabila tidak memperkuat perlindungan infrastruktur digital.
Serangan terhadap proyek kripto AI berawal dari penyalahgunaan signing key yang memiliki akses terhadap fungsi penting dalam beberapa jaringan. Kunci tersebut memungkinkan pelaku menjalankan transaksi tertentu tanpa persetujuan dari pihak proyek.
Pada kasus Fetch.ai, penyerang berhasil mengambil sekitar 8,7 juta token FET dari sistem converter milik proyek tersebut. Nilai aset yang berpindah tangan mencapai sekitar 1,56 juta dolar AS berdasarkan pemantauan transaksi blockchain.
Selain Fetch.ai, NuNet juga menghadapi serangan serupa. Pelaku membuat sekitar 408,5 juta token NTX baru tanpa izin dengan nilai lebih dari 450 ribu dolar AS.
Tidak berhenti di dua proyek tersebut, pelaku yang sama juga menyerang SingularityNET dan World Mobile Chain. Penyerang mendapatkan sekitar 260 juta token AGIX serta 53,8 juta token WMTx melalui celah pada sistem bridge.
Berdasarkan analisis transaksi blockchain, pelaku saat ini menguasai aset kripto dengan nilai sekitar 16,77 juta dolar AS. Aset tersebut mencakup token AGIX, Ethereum, dan WMTx.
Sementara itu, aktivitas penjualan aset mulai memberikan tekanan terhadap harga token. Token WMTx mengalami penurunan sekitar 42 persen, sedangkan NTX mengalami pelemahan lebih dari 64 persen setelah insiden tersebut muncul.
Setelah menemukan aktivitas mencurigakan, tim proyek langsung mengambil langkah pengamanan. Fetch.ai bersama SingularityNET menonaktifkan dompet yang terdampak serta menghentikan kontrak tertentu untuk mencegah kerugian lebih besar.
Fetch.ai juga melakukan analisis transaksi melalui ASI:One untuk melacak alur serangan. Laporan tersebut menjelaskan bahwa serangan berawal dari kompromi signing key hingga perpindahan dana menuju dompet yang digunakan pelaku.
Selain mengamankan sistem internal, tim proyek menghubungi bursa kripto untuk membantu membekukan aset yang terkait dengan aktivitas ilegal. Mereka juga bekerja sama dengan perusahaan keamanan blockchain dan lembaga penegak hukum.
An on-chain analysis of the exploit is now available on ASI:One. It traces the attack from the compromised signing key to the attacker's cash-out wallets. This is not the final analysis.
— Fetch.ai (@Fetch_ai) September 20, 2026
Read the report: https://t.co/W95r50VMaY
Together with @SingularityNET, we have deactivated…
Blockaid, perusahaan keamanan blockchain, melaporkan bahwa serangan terhadap Fetch.ai melibatkan penyalahgunaan tanda tangan otorisasi yang valid pada sistem konversi token.
Namun, jumlah kerugian akhir masih membutuhkan penyelidikan lanjutan. Pemantauan blockchain saat ini memperkirakan nilai kerugian mencapai sekitar 2 juta dolar AS, tetapi proyek terkait masih melakukan verifikasi resmi.
Serangan terhadap proyek kripto AI memberikan pelajaran penting bagi investor dan trader. Popularitas sebuah proyek tidak selalu menjamin keamanan sistem yang digunakan.
Trader perlu memperhatikan beberapa faktor sebelum membeli aset digital, termasuk rekam jejak keamanan, transparansi pengembang, serta respons proyek ketika menghadapi insiden.
Selain itu, investor perlu memahami bahwa token berbasis AI memiliki risiko teknologi yang cukup kompleks. Sistem seperti bridge, converter, dan kontrak pintar dapat menjadi target serangan apabila pengembang tidak melakukan audit keamanan secara berkala.
Di sisi lain, insiden ini juga menunjukkan pentingnya pemantauan transaksi blockchain. Data on-chain dapat membantu komunitas menemukan aktivitas tidak normal lebih cepat dan mengurangi dampak kerugian.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.
© 2024 HarianKripto.id - Berita Harian Penting Bitcoin, Cryptocurrency, Blockchain, Teknologi WEB3.