Hariankripto – Vitalik Buterin kembali menarik perhatian dunia kripto melalui wawancara eksklusif bersama Foresight News di Chiang Mai, Thailand pada akhir Januari 2026. Co-founder Ethereum ini membagikan pandangan tajam tentang peran blockchain di tengah dominasi kecerdasan buatan yang semakin masif.
Dalam percakapan santai di balkon komunitas 706, Vitalik duduk di atas ayunan sambil menjawab berbagai pertanyaan. Tanpa pengawal, tanpa protokol ketat, Vitalik tampak seperti anggota komunitas biasa yang kebetulan memimpin kerajaan terdesentralisasi senilai ratusan miliar dolar.
Ethereum Siap Jadi “Bank” bagi AI Agent
Vitalik menegaskan bahwa Ethereum pada dasarnya adalah komputer dunia yang terdesentralisasi (World Computer). Karakteristik utamanya terletak pada sifat “permissionless” sehingga siapa pun bisa mengakses tanpa izin, baik manusia, perusahaan, maupun AI Agent.
Ia menjelaskan bahwa AI tidak bisa membuka rekening di bank tradisional. Ketika AI Agent membutuhkan dana untuk menjalankan tugas, kripto menjadi satu-satunya pilihan. Ethereum sudah siap mengambil peran ini.
Vitalik juga mengingatkan komunitas untuk tidak terjebak dalam pemikiran bahwa segala sesuatu harus berubah demi AI. Ia memberi analogi sederhana: protokol TCP/IP yang menjadi fondasi internet tidak perlu direkonstruksi hanya karena AI hadir. Blockchain sebagai protokol kepercayaan dasar juga tidak memerlukan perubahan drastis.
Tiga Titik Temu Krusial antara AI dan Kripto
Meski menolak narasi “kombinasi paksa”, Vitalik mengidentifikasi tiga area konkret di mana AI dan Kripto bisa saling melengkapi di layer aplikasi, yaitu:
Pertama, AI Banking. AI Agent membutuhkan akses finansial untuk beroperasi secara otonom. Sistem perbankan tradisional tidak mengakomodasi entitas non-manusia, sehingga kripto menjadi infrastruktur keuangan natural bagi AI.
Kedua, Prediction Market. AI bisa berpartisipasi sebagai trader di pasar prediksi seperti Polymarket. Kemampuan AI menganalisis data dalam skala besar berpotensi menghasilkan prediksi yang lebih akurat dan meningkatkan efisiensi pasar.
Ketiga, Verifikasi Keaslian Konten. Blockchain bisa membuktikan apakah sebuah konten dibuat oleh manusia atau dihasilkan oleh AI. Di era deepfake dan misinformasi, kemampuan ini menjadi semakin krusial.
Vitalik juga menyinggung proyek-proyek yang ia pantau secara aktif, termasuk Polymarket, Farcaster, UMA, Chainlink, MetaDAO, dan Base. Dalam wawancara tersebut Vitalik membagikan observasinya mengenai proyek AI dan kripto tanpa ragu.
Vitalik Masih Coding dan Hidup Seperti “Orang Biasa”
Di tengah hype “Vibe Coding” istilah populer untuk menulis kode dengan bantuan AI tanpa memperhatikan detail—Vitalik mengaku masih mempertahankan kebiasaan menulis kode sendiri.
Vitalik membagi aktivitas coding-nya menjadi dua kategori. Pertama, membuat skrip praktis untuk meningkatkan produktivitas pribadi. Kedua, menulis implementasi algoritma kriptografi kompleks (biasanya dalam Python) untuk memverifikasi konstruksi matematisnya.
Soal tools AI, Vitalik tidak terikat pada satu platform tertentu. Ia menggunakan OpenRouter sebagai agregator yang memungkinkan akses ke berbagai model AI. Untuk coding, ia memanfaatkan ChatGPT, DeepSeek, dan Gemini secara bergantian.
Yang tidak berubah dari Vitalik adalah gaya hidupnya yang sederhana. Ia tidak pernah tinggal di satu kota lebih dari dua bulan. Ia tidak memiliki bodyguard dan rela antre di kantin bersama orang-orang biasa. Sore itu, ketika wawancara selesai dan malam menjelang, ia berlari kecil ke jalan dan memesan ojek online sendirian—persis seperti siapa pun di komunitas itu.
Di balik kerajaan terdesentralisasi bernilai ratusan miliar dolar, Vitalik terus menjaga kebebasannya sebagai “orang biasa”.
Kesimpulan
Wawancara eksklusif ini mengungkap evolusi pemikiran Vitalik Buterin dalam setahun terakhir. Ia menolak skenario kiamat kripto dan justru melihat Ethereum sebagai benteng terakhir melawan potensi tirani AI.
Dengan tiga titik temu yaitu AI banking, prediction market, dan verifikasi konten, Vitalik menawarkan peta jalan yang lebih membumi untuk integrasi AI dan Crypto. Di tengah semua kompleksitas teknologi ini, Vitalik tetap memilih hidup sederhana tanpa privilese.





















